Headlines

Negeriku

Aku Cinta Negeriku Namun Tidak Seperti Garuda Di Dadaku kuberdiri disini dengan tegak tidak seorangpun yang menghentikanku berdiri meskipun musuh datang menyerang kutetap setia hingga akhir hidupku. Sang Mentari Mulai bersinar yang kan selalu menemani langkahku yang akan memberikan cahaya kehidupan menitih hidupan yang sangat fana ini, Burung-burung berkicau menyambutsang mentari, ayam jantan berkokok dengan penuh semangat yang selalu menemani pagi hariku. (Kedatangan Tentara Sekutu/Pertempuran 10 November di Surabaya Sejak Tahun 1596 silam Belanda di bawah pimpinan Cornelis de Houtman, pertama kali mendarat di Banten. Tahun 1602 silam Belanda mendirikan kongsi dagang VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie ) di Batavia untuk memperkuat kedudukannya. VOC mempunyai hak istimewa disebut Octroi. Gubernur Jendral VOC pertama Pieter Both, kemudian digantikan J. P. Coen. VOC ingin menguasai pusat-pusat perdagangan, seperti Batavia, Banten, Selat Sunda, Makasar, Maluku, Mataram (Jawa), dan berbagai daerah strategis lain. Belanda dapat menguasai Nusantara karena politik kejam mereka yaitu politik adu domba. Belanda mengadu domba raja-raja di daerah sehingga mereka terhasut dan terjadilah perang saudara dan perebutan tahta kerajaan. Belanda membantu pemberontakan dengan meminta imbalan daerah kekuasaan dagang (monopoli perdagangan). Akhir abad ke-18 VOC bangkrut dan dibubarkan tanggal 31 Desember 1799. Indonesia diperintah oleh Kolonial Belanda dengan gubernur jendral pertama Daendels yang sangat kejam. Rakyat dipaksa kerja rodi membuat jalan sepanjang 1.000 km (dari Anyer–Panarukan), mendirikan pabrik senjata di Semarang dan Surabaya juga membangun Pelabuhan Merak. Daendels digantikan Jansens yang kemudian dikalahkan Inggris. Tahun 1816 Indonesia dikembalikan ke Belanda, dengan Van den Bosch sebagai gubernur. Ia menerapkan politik tanam paksa. Tujuannya untuk mengisi kas Belanda yang kosong.Tanam paksa menyengsarakan rakyat, selain rakyat dipaksa menanam 1/5 tanahnya dengan ketentuan Belanda, mereka juga dipaksa membayar pajak dan ganti rugi tanaman. 1. Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Mataram (Tahun 1628 dan Tahun 1629) Raden Mas Rangsang menggantikan Raden Ma Martapura dengan gelar Sultan Agung Senapati Ing Alogo Ngabdurrachman. Ia adalah Raja Mataram yang memakai gelar Sultan, sehingga lebih dikenal dengan sebutan Sultan Agung. Sultan Agung memerintah Mataram dari tahun 1613–1645. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Mataram mencapai kejayaan. Dalam memerintah kerajaan, ia bertujuan mempertahankan seluruh tanah Jawa dan mengusir Belanda dari Batavia. Pada masa pemerintahannya, Mataram menyerang ke Batavia dua kali (tahun 1628 dan tahun 1629), namun gagal. Dengan kegagalan tersebut, membuat Sultan Agung makin memperketat penjagaan daerah perbatasan yang dekat Batavia, sehingga Belanda sulit menembus Mataram. Sultan Agung wafat pada tahun 1645 dan digantikan putranya bergelar Amangkurat I. 2. Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten (1650–1682) Sultan Ageng Tirtayasa memerintah Banten dari tahun 1650–1692. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Banten mengalami masa kejayaan. Ia berusaha memperluas kerajaannya dan dan mengusir Belanda dari Batavia. Banten mendukung perlawanan Mataram terhadap Belanda di Batavia. Sultan Ageng Tirtayasa memajukan aktivitas perdagangan agar dapat bersaing dengan Belanda. Selain itu juga memerintahkan pasukan kerajaan Banten untuk mengadakan perlawanan terhadap Belanda di Batavia. Kemudian mengadakan perusakan perkebunan tebu milik Belanda di Ciangke. Menghadapi gerakan tersebut membuat Belanda kewalahan. Pada tahun 1671 Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat putra mahkota menjadi raja pembantu dengan gelar Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji). Sejak saat itu Sultan Ageng Tirtayasa beristirahat di Tirtayasa. 3. Sultan Hasanudin dari Makasar Sulawesi Selatan yang Mendapat Julukan Ayam Jantan dari Timur Pada masa pemerintahan Sultan Hasanudin, Kerajaan Makasar mencapai masa kejayaan. Cita-cita Sultan Hasanudin untuk menguasai jalur perdagangan Nusantara mendorong perluasan kekuasaan ke kepulauan Nusa Tenggara. Hal itu mendapat tentangan Belanda. Pertentangan tersebut sering menimbulkan peperangan. Keberanian Sultan Hasanudin dalam memimpin pasukan Kerajaan Makasar mengakibatkan kedudukan Belanda semakin terdesak. Atas keberanian Sultan Hasanudin, Belanda menjulukinya dengan sebutan “Ayam Jantan dari Timur”. 4. Pattimura (Thomas Matulesi) dari Maluku Pada tanggal 16 Mei 1817 Rakyat Maluku di bawah pimpinan Pattimura (Thomas Matulesi) mengadakan penyerbuan ke pos Belanda dan berhasil merebut benteng Duurstede. Dari Saparua perlawanan meluas ke tempat lain seperti Seram, Haruku, Larike, dan Wakasihu. Hampir seluruh Maluku melakukan perlawanan, sehingga Belanda merasa kewalahan. Pada tanggal 15 Oktober 1817, Belanda mulai mengadakan serangan besar-besaran. Pada bulan November 1817 Thomas Matulesi berhasil ditangkap. 5. Imam Bonjol dari Sumatra Barat Rakyat Minangkabau bersatu melawan Belanda. Terjadi pada tahun 1830– 1837. Perlawanan terhadap Belanda di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol. Untuk mengatasi perlawanan rakyak Minangkabau, Belanda menerapkan siasat adu domba. Dalam menerapkan siasat ini Belanda mengirimkan pasukan dari Jawa di bawah pimpinan Sentot Prawiradirja. Ternyata Sentot beserta pasukannya membatu kaum padri. Karena itu Sentot ditangkap dan diasingkan ke Cianjur,Jawa Barat. Pada akhir tahun 1834, Belanda memusatkan pasukannya menduduki kota Bonjol. Tanggal 16 Juni 1835, pasukan Belanda menembaki Kota Bonjol dengan meriam. Dengan tembakan meriam yang sangat gencar Belanda berhasil merebut Benteng Bonjol. Akhirnya pada tanggal 25 Oktober 1837 Tuanku Imam Bonjol menyerah. Dengan menyerahnya Tuanku Imam Bonjol berarti padamlah perlawanan rakyat Minangkabau terhadap Belanda. 6. Diponegoro (Ontowiryo) dari Yogyakarta (1825 – 1830) Pangeran Diponegoro dengan nama kecil Raden Mas Ontowiryo, putra sulung Sultan Hamengkubowono III, lahir pada tahun 1785. Melihat penderitaan rakyat, hatinya tergerak untuk memperjuangkannya. Perlawanan Diponegoro pemicu utamanya adalah pemasangan tiang pancang membuat jalan menuju Magelang. Pemasangannya melewati makam leluhur Diponegoro yang dilakukan tanpa izin. Karena mendapat tentangan, pada tanggal 20 Juli 1825 Belanda melakukan serangan ke Tegalrejo. Namun dalam serangan tersebut tidak berhasil menemukan Diponegoro, karena sebelumnya Diponegoro telah memindahkan markasnya di Selarong. Dalam perlawanan melawan Belanda Pangeran Diponegoro dibantu Pangeran Mangkubumi, Sentot Pawirodirjo, Pangeran Suriatmojo, dan Dipokusumo. Bantuan dari ulama pun ada, yaitu dari Kyai Mojo dan Kyai Kasan Basri Untuk mematahkan perlawanan Diponegoro, Belanda melaksanakan siasat Benteng Stelsel (sistem benteng). Dengan berbagai siasat, akhirnya Belanda berhasil membujuk para pemimpin untuk menyerah. Melihat hal itu, Pangeran Diponegoro merasa terpukul. Dalam perlawanannya akhirnya Pangeran Diponegoro terbujuk untuk berunding. Dalam perundingan, beliau ditangkap dan diasingkan ke Makasar sampai akhirnya meninggal dunia pada tanggal 8 Januari 1855. 7. Pangeran Antasari dari Banjarmasin Perlawanan rakyat Banjar dipimpin oleh Pangeran Hidayat dan Pangeran Antasari. Perlawanan tersebut terkenal dengan Perang Banjar, berlangsung dari tahun 1859–1863. Setelah Pangeran Hidayat ditangkap dan diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat perlawanan rakyat Banjar masih terus dilakukan dipimpin oleh Pangeran Antasari. Atas keberhasilan memimpin perlawanan, Pangeran Antasari diangkat sebagai pemimpin agama tertinggi dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin. Beliau terus mengadakan perlawanan sampai wafat tanggal 11 Oktober 1862. 8. Sisingamangaraja XII dari Tapanuli Sumatra Utara Sisingamangaraja lahir di Baakara, Tapanuli pada 1849 dan menjadi raja pada tahun 1867. Saat bertahta, ia sangat menentang penjajah dan melakukan perlawanan, akibatnya ia dikejar-kejar oleh penjajah. Setelah tiga tahun dikejar Belanda, akhirnya persembunyian Sisingamangaraja diketahui dan dikepung ketat. Pada saat itu komandan pasukan Belanda meminta kembali agar ia menyerah dan menjadi Sultan Batak, namun Sisingamangaraja tetap menolak dan memilih mati daripada menyerah. B. Pergerakan Nasional Indonesia Pergerakan nasional adalah perjuangan yang mengikutsertakan seluruh rakyat Indonesia. Latar belakang timbulnya pergerakan nasional adalah rasa senasib dan sepenanggungan, penderitaan rakyat akibat penjajahan, rakyat yang tidak mempunyai tempat mengadu nasib, adanya golongan terpelajar yang sadar akan perjuangan, dan kemenangan Jepang melawan Rusia pada tahun 1905. Sesudah tahun 1908 perjuangan banyak ditempuh dengan jalan diplomasi. Kegagalan perjuangan sebelum tahun 1908 disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut. 1. Belum ada persatuan dan kesatuan di seluruh Nusantara. 2. Perjuangan masih bersifat kedaerahan. 3. Kalah dalam persenjataan dan teknik perang. Tokoh penting pergerakan nasional antara lain sebagai berikut. 1. R. A. Kartini lahir di Jepara 21 April 1879 Jawa Tengah. Menerbitkan buku Habis Gelap Terbitlah Terang , cita-citanya ingin memajukan kaum wanita sederajat dengan pria. Ia mendapat gelar pahlawan emansipasi wanita. 2. Dewi Sartika dari Jawa Barat. Ia mendirikan sekolah Kautaman Istri. 3. dr. Sutomo, pendiri Budi Utomo pada tangal 20 Mei 1908. BU adalah organisasi pergerakan nasional pertama maka kelahirannya diabadikan sebagai hari kebangkitan nasional yaitu tanggal 20 Mei. 4. K.H. Dewantoro lahir tanggal 2 Mei di Yogyakarta dengan nama kecil R. Suwardi Suryaningrat. Jasa beliau adalah sebagai berikut. a. Pendiri Indische Partij bersama Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusuma. Mereka bertiga dikenal dengan nama Tiga Serangkai. IP berdiri tanggal 25 Desember 1912 di Bandung dengan tujuan ingin mempersatukan Indonesia mencapai kemerdekaan. b. Pendiri Taman Siswa tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta, organisasi pendidikan dan kebangsaan. Ia mempunyai semboyan “Ing ngarso sung tulodho, Ing madya mangun karso, Tut wuri handayani .” Karena jasa beliau di bidang pendidikan beliau mendapat gelar Bapak Pendidikan Nasional. Dan tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. 5. Douwes Dekker adalah mantan residen Lebak, ia menulis buku Max Havelaar dengan nama samaran Multatuli. Isi buku menceritakan penderitaan rakyat selama 31 tahun sewaktu dilaksanakan tanam paksa. Buku itu menggegerkan warga Belanda, akhirnya tanam paksa dibubarkan. Douwes Dekker juga ikut mendirikan Indische Partij. Tokoh lain yang ikut dalam pergerakan nasional adalah Saman Hudi (pendiri SDI) dan Hos Cokroaminoto, K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), Ir. Soekarno, dan kawan-kawan (pendiri PNI), dan Muh. Hatta (pendiri PI). C. Peranan Sumpah Pemuda dipimpin oleh R. Satiman Wirjosandjojo. Tahun 1918 berganti nama dengan Jong Java. Tahun 1917 Moh. Hatta mendirikan Jong Sumatranen Bond (JSB). Tahun 1918 pemuda Ambon mendirikan Jong Ambon. Setelah itu menyusul Jong Celebes, Jong Batak, dan Sekar Rukun (Sunda). Tujuan mulia Trikoro Darmo yaitu sakti, budi, dan bakti. Pada bulan Nopember 1925 organisasi itu mengadakan pertemuan di Jakarta dan sepakat untuk berkumpul kembali. Pada bulan April 1926 diadakan kongres pemuda I di Jakarta. Ketuanya adalah M. Tabrani dan Sumarto sebagai wakilnya. Sekretarisnya adalah Jamaludin Adinegoro, dan Suwarso sebagai bendaharanya. Pada tanggal 27–28 Oktober 1928 diadakan Kongres Pemuda II. Ketua : Soegondo Djojopuspito Wakil Ketua : Djoko Marsaid Sekretaris : Moh. Yamin Bendahara : Amir Syarifudin Kongres Pemuda II menghasilkan Ikrar Sumpah Pemuda yang isinya sebagai berikut. 1. Kami putra-putri Indonesia, mengakui bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. 2. Kami putra-putri Indonesia, mengakui berbangsa satu, bangsa Indonesia. 3. Kami putra-putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Sebelum sumpah pemuda dibacakan dinyanyikan lagu Indonesia Raya oleh W.R. Supratman, setelah itu setiap pertemuan dimulai dinyanyikan lagu Indonesia Raya untuk menggugah semangat pemuda. Pada tanggal 22 Desember 1928 diadakan kongres organisasi wanita di Yogyakarta. Tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu. Untuk membantu militer Jepang dibentuk organisasi Seinendan, Fujinkai, Bogodan (pembantu polisi), Keibodan dan Heiho (pembantu prajurit). Tahun 1943 dibentuk PETA (tentara pembela tanah air) dan giguyun (tentara suka rela) yang bertugas mempertahankan wilayahnya. Untuk kepentingan perang Jepang, rakyat diperas dan dipaksa bekerja. Jepang menggerakkan pekerja paksa yaitu Romusha. Mereka dipaksa bekerja di tengah hutan, di tebing, pantai, sungai untuk membuat lapangan terbang dan kubu-kubu pertahanan serta rel kereta api. Romusha dipekerjakan di dalam dan luar negeri seperti Burma, Malaysia dan Thailand. Akibat penjajahan Jepang, rakyat kelaparan, kurang pangan, dan sandang. Rakyat dipaksa menanam padi sebanyak-banyaknya dan jarak untuk dijadikan pelumas mesin-mesin dan pesawat. Jepang berkuasa di Indonesia selama kurang lebih tiga setengah tahun. Beberapa tokoh pahlawan yang mengadakan perlawanan terhadap Jepang, yaitu 1. Tengku Abdul Jalil dan Tengku Abdul Hamid memimpin perlawanan di Aceh tahun 1942 dan 1944. 2. K.H. Zainal Mustafa di Singaparna Tasikmalaya Jawa Barat tahun 1944. 3. Pang Suma di Tayan Pontianak Kalimantan Barat tahun 1944. 4. L.Roemkorem di Papua tahun 1943. 5. Supriyadi di Blitar Jawa Timur tanggal 14 Februari 1945. Surabaya adalah tanah kelahiranku, sejak itu aku masih berumur 17 tahun yangi suka main eristiwa sejarah yang menjadi objek atau melatari novel-novel Suparto Brata adalah sebagai berikut: SL (masa Agresi Militer Belanda I/1947); STD (zaman Pendudukan Jepang di Surabaya); NM (Kedatangan Tentara Sekutu/Pertempuran 10 November di Surabaya); K (Pemberontakan G30S/PKI/1965-1967); SM(zaman Pendudukan Jepang di Surabaya); DWC (Pemberontakan PKI tahun 1965); GT (zaman kolonialisme Belanda di Medan); MSA (masa kolonialisme Belanda-Pemberontakan PKI Madiun-Agresi Militer Belanda II/1935-1950); KR (Kedatangan Jepang/Peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang); DsiB (masa Agresi Militer Belanda I/1948); dan MdUT (zaman Pendudukan Jepang di Bagelen-Solo). Jika dirangkaikan, kesebelas novel tersebut mencakup periode waktu tahun 1935 (tercatat dalam MSA) hingga akhir September 1967 (tertulis dalam K), yang meliputi masa kolonialisme Belanda, masa pendudukan Jepang, Perang Kemerdekaan/Revolusi (Pertempuran 10 November, Agresi Militer Belanda pertama dan kedua, Pemberontakan PKI Madiun), Orde Lama/Pemberontakan G30S/PKI, dan awal Orde Baru. Novel-novel tersebut tidak sekadar mengungkap peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Indonesia sejak sebelum hingga sesudah kemerdekaan, tetapi juga menggambarkan perjuangan hidup manusia dari beragam kelas sosial, jenis kelamin, usia, dan profesi. Masa Kolonialisme Belanda Kolonialisme Belanda pada periode tahun 1927-1942 dalam sejarah Indonesia merupakan masa represi dan krisis ekonomi. Rezim Belanda memasuki masa yang paling menindas terhadap pribumi sehingga melahirkan perlawanan yang kuat meskipun berbeda pendapat, para elit tokoh bangsa waktu itu memiliki satu kesepahaman, yaitu tidak mungkin lagi bekerja sama dengan Belanda. Nasionalisme menempati posisi ideologis yang paling berpengaruh (Ricklefs, 2005;374). Kartodirdjo (1984;13-14) juga mencatat abad ke-20 sebagai abad bangkitnya nasionalisme di kalangan penduduk jajahan di Indonesia yang secara tegas telah merumuskan satu tujuan, yaitu kemerdekaan. Dalam beberapa hal, novel-novel Suparto Brata merefleksikan kolonialisme Belanda yang berbeda dengan catatan dua sejarawan tersebut, sebagaimana terungkap dalam novel GT dan MSA. Kedua novel itu tidak secara jelas memosisikan Belanda sebagai musuh, tetapi justru sebagai sumber wacana untuk meningkatkan peradaban bangsa Jawa (baca Indonesia), dengan menggambarkan transformasi seorang rakyat biasa berperadaban rendah menjadi priayi berperadaban tinggi melalui proses pendidikan membaca dan menulis dengan “kiblat” pada kemajuan peradaban bangsa Belanda. Melalui pendidikan membaca dan menulis, Rokhayah berhasil meningkatkan martabatnya dari gadis kampung yang bodoh dan liar menjadi priayi terhormat. Perubahan hidup Rokhayah itu dioposisikan dengan nasib Turnadi dan Rokhim yang menjadi pengkhianat bangsa hingga hidupnya berakhir tragis. Materi sejarah dalam novel ini dimanfaatkan sebagai penyampai gagasan pentingnya peran pendidikan dalam upaya membangun hidup merdeka dan bermartabat. Dalam GT menggambarkan kehidupan pribumi, baik dari kelas wong cilik (keluarga Wongsodirjo dan penghuni tangsi lainnya) maupun bangsawan (Kapten Sarjubehi) yang bekerja sebagai tentara Kompeni Belanda di tangsi militer Lorong Belawan, Medan. Akan tetapi, fokus novel ini tidak pada aktivitas tentara KNIL, melainkan pada perjuangan Teyi dan Raminem, anak dan istri Wongsodirjo serta para istri dan anak serdadu KNIL lainnya yang berasal dari Jawa. Dalam lingkungan yang liar dan serbakekurangan itulah, diperlihatkan bagaimana semangat Teyi mengubah hidupnya menjadi manusia berperadaban tinggi. Di bawah bimbingan Putri Parasi, Teyi mendapat pendidikan membaca, menulis, bahasa Jawa halus dan bahasa Belanda, serta sopan santun. Bekal pendidikan inilah yang mengendalikan hidup Teyi sehingga tidak terseret dalam kehidupan liar tangsi. Semangat dan cita-cita Teyi untuk membangun hidup yang bermartabat itu digambarkan tidak mendapat halangan dari Belanda atau Jepang, tetapi justru oleh Manguntaruh dan Dasiyun yang masih tergolong saudaranya. Dalam novel ini pun, oposisi menyangkut nasib orang-orang yang berpendidikan dan tidak berpendidikan sangat jelas dengan menempatkan keberhasilan hidup orang-orang yang mau belajar dan kegagalan hidup orang-orang yang hidup dalam kebodohan. Masa Pendudukan Jepang (1942-1945) Masa pendudukan Jepang dalam catatan Ricklefs (2005;405) merupakan periode yang paling menentukan dalam sejarah Indonesia karena pemerintah militer Jepang mengindoktrinasi, melatih, dan mempersenjatai generasi muda serta memberi kesempatan kepada para pemimpin untuk berhubungan dengan rakyat di tingkat bawah. Meskipun sama-sama ingin menguasai Indonesia, Belanda memaksakan suatu ketenangan yang tertib, sedangkan Jepang memobilisasi rakyat. Dengan meminta bantuan pemimpin-pemimpin Indonesia, Jepang mempolitisasi dan memobilisasi rakyat hingga ke tingkat desa untuk kepentingan perang hingga menggoncang kehidupan desa yang apolitis pada zaman kolonial Belanda. Peniadaan pengaruh Belanda, baik dalam hal politik maupun budaya, membangkitkan kesadaran nasional yang lebih mantap. Berbagai kebijakan Jepang itulah yang memungkinkan atau mendorong lahirnya revolusi Indonesia menentang kehadiran kembali tentara Belanda setelah Jepang menyerah. Di samping kebijakan yang secara tidak langsung menguntungkan bangsa Indonesia, Jepang juga membuat kebijakan yang sangat menyengsarakan. Membanjirnya mata uang pendudukan membuat tingkat inflasi yang sangat tinggi, pengaturan pangan dan tenaga kerja secara paksa (romusha), gangguan transportasi, dan kekacauan umum mengakibatkan timbulnya kelaparan, kematian, dan kesengsaraan. Refleksi atas kehidupan bangsa Indonesia pada masa pendudukan Jepang dalam karya prosa Suparto Brata adalah gambaran masa-masa kegelapan karena kelaparan, ketakutan, dan kekejaman Jepang yang di luar batas perikemanusiaan, sebuah gambaran yang sangat kontras dengan masa pemerintahan kolonial Belanda yang tertib dan teratur. Penderitaan akibat pendudukan Jepang itu tidak hanya dirasakan oleh masyarakat kelas bawah atau wong cilik, tetapi juga oleh keluarga bangsawan, seperti Raden Ayu Rumsari dalam novel SM yang dipaksa menjadi budak nafsu/jugun ianfu seorang komandan Jepang bernama Ichiro. Raden Ayu Rumsari bersama suaminya, Wiradad, berjuang melalui gerakan bawah tanah untuk menghancurkan tentara Jepang yang telah merendahkan martabat bangsanya. Kematian RA Rumsari membawa Kuntara yang baru berusia 13 tahun terlibat dalam perjuangan. Kuntura bekerja sama dengan Wiradad berhasil meledakkan gudang persenjataan Jepang yang berkedok pabrik karung. Peran anak-anak dalam perjuangan kemerdekaan menggambarkan bahwa nasionalisme bukan hanya milik orang dewasa. Kekejaman Jepang juga tergambar dalam KR yang merupakan kelanjutan dari GT. Novel ini mengungkap kehidupan para penghuni tangsi saat kedatangan tentara Jepang. Kaum lelaki atau para serdadu KNIL dikirim oleh Belanda ke Tanjung Balai untuk melindungi kilang minyak dan membendung serangan tentara Jepang……. Dalam novel MSA, kedatangan tentara Jepang juga digambarkan telah mengubah Surabaya menjadi kota kere dan gembel, penduduknya harus antri beras dan minyak, serta selalu dalam siaga mendengarkan bunyi sirine tanda serangan udara. Dalam kondisi demikian, Turnadi memilih menjadi tentara Jepang atau kenpeitai yang berarti memilih menjadi kaki tangan penjajah yang menindas bangsa sendiri. Ia tidak segan-segan membunuh Yayi dan Slamet, jurnalis dan pejuang yang mendedikasikan hidupnya untuk membebaskan bangsanya dari belenggu kolonialisme Berlanda. Jika dalam SM, KR, MdUT, dan MSA tokoh-tokohnya berasal dari etnis Jawa, STD menggambarkan perjuangan hidup komunitas etnis Ambon di Surabaya pada masa pendudukan Jepang. Kedekatan etnis Ambon dengan penguasa Belanda pada masa penjajahan Belanda membuat posisi komunitas Ambon selalu dicurigai sebagai mata-mata Belanda oleh Jepang dan dimusuhi oleh kaum pribumi etnis Jawa di Surabaya (Sugiarti, 2009;126). Penderitaan panjang komunitas Ambon dengan fokus pada keluarga Pastora tidak berhenti dengan kematian Pastora dalam siksaan tentara Jepang. Kedatangan tentera sekutu juga membawa bencana dan penderitaan yang tidak kalah menyakitkan berupa tindak pelecehan seksual: adik-adik Jootje diperkosa secara bergiliran oleh tentara Gurkha atau sekutu yang menyerbu rumahnya ketika ia sedang berusaha mencari obat untuk ibunya yang sakit. Rasa kebangsaan dan nasionalisme akhirnya mengalahkan sentimen kesukuan sehingga Jootje yang masih remaja mengajak ibu dan saudaranya tetap tinggal di Surabaya sebagai tanah airnya dan bersama-sama rakyat Surabaya berjuang mempertahankan kota dari pendudukan tentara sekutu. Masa Revolusi Kemerdekaan (1945-1950) Pada awal kemerdekaan, bangsa Indonesia dihadapkan pada pertarungan-pertarungan sengit antarindivvidu dan kekuatan-kekuatan sosial yang saling bertentangan sehingga menjadi periode yang kacau balau. Bangsa Indonesia yang baru merdeka tidak hanya menghadapi Belanda yang ingin menjajah kembali, tetapi juga menghadapi elemen bangsa sendiri yang berebut pengaruh dan kekuasaan. Surabaya menjadi arena pertempuran yang paling hebat sehingga terjadi lambang perlawanan nasional. Pada tanggal 20 Juli 1947, Belanda melancarkan aksi polisional atau Agresi Militernya yang pertama dan berakhir dengan perjanjian Renville, yang salah satu hasil kesepakatannya adalah garis demarkasi. Beberapa tokoh bangsa yang tidak puas dengan hasil perjanjian itu, bergabung dengan komunis melancarkan pemberontakan di Madiun tanggal 18 September 1948. Peristiwa Madiun menjadi titik balik revolusi yang sangat penting karena mengkhianati revolusi kemerdekaan. Pada tanggal 18 Desember 1948 bangsa Indonesia harus menghadapi aksi polisional atau Agresi Militer Belanda yang kedua (Ricklefs, 2005;428-468). Kekacauan masa revolusi kemerdekaan dalam perjalanan sejarah bangsa dapat dilihat dalam novel: SL, DsiB, NM, dan MSA. NM menggambarkan berakhirnya masa pendudukan Jepang yang ditandai oleh kedatangan tentara Sekutu di Surabaya. Novel ini diawali oleh pengkhianatan Turnadi dengan cara menyerahkan Mohammad Delar ke Kenpeitai. Mohammad Delar, yang hanya seorang sopir, mengira Nursalim telah menjebloskannya ke penjara Jepang karena ingin merebut istrinya. Kekalahan Jepang menyelamatkan Mohammad Delar dari penjara kenpeitai sehingga ia bisa mencari orang-orang yang mencoba mencelakainya. Ketika berusaha mencari Nursalim, Mohammad Delar diberitahu bahwa istrinya telah dinikahi oleh Nursalim. Akan tetapi, ternyata Nursalim hanya bermaksud menyelamatkannya dari kejahatan Turnadi yang diam-diam ingin merebut istri Mohammad Delar. Turnadi adalah temannya yang semasa Jepang berpihak menjadi tentara Jepang, sedangkan Nursalim menjadi komandan TKR yang disegani anak buahnya karena gigih menolak kedatangan sekutu. Meskipun marah, Mohammad Delar tetap bergabung dalam kesatuan TKR yang dikomandoi Nursalim dalam pertempuran 10 November. Dengan menepiskan perselisihan pribadi, mereka bersama-sama berjuang sampai titik darah penghabisan. Mohammad Delar dan Nursalim gugur sebagai pahlawan. Masa perang kemerdekaan atau agresi militer Belanda dari sisi dunia telik sandi ‘mata-mata’ terungkap dalam novel SL dan DsiB. DsiB menceritakan upaya Herlambang atau Hartono, seorang anggota Tentara Rakyat Indonesia, menerobos garis demarkasi dan menyusup ke wilayah Republik guna membongkar pengkhianat atau mata-mata musuh yang berkedok sebagai pejuang dengan cara menjadi pekerja di gudang senjata yang sudah dikuasai oleh pasukan Republik Indonesia. Dengan menyamar menjadi mata-mata sekutu, Herlambang berhasil mendapat logistik dari tentara Belanda sebagai bekal menyusup ke wilayah Republik. Dalam misinya itu, ia bertemu putri bangsawan Surakarta, Ngesthireni yang juga menyusup ke wilayah Republik untuk membongkar kejahatan saudara tirinya yang telah menjandikannya budak nafsu tentara Jepang hanya karena ingin menguasai hartanya. Herlambang dan Ngesthireni ternyata mencari orang yang sama, yaitu Raden Mas Yogyantara. Pada masa Jepang, RM Yogyantara menjadi mata-mata Jepang dan ketika Jepang menyerah pada sekutu ia beralih menjadi mata-mata Belanda dan mengkhianati perjuangan bangsa sendiri. Dunia spionase sebagai bagian dari perang revolusi juga tampak dalam SL yang mengungkap peran seorang jurnalis Surabaya mencari pengkhianat bangsa yang menyusup ke wilayah kekuasaan Republik pada masa pemberlakuan garis demarkasi: Ing Sala, ing dhaerah Republik, dheweke nemoni omah kang wong-wonge dadi antheke Landa. ‘Di Sala, di daerah Republik, dirinya menemukan rumah-rumah yang orang-orangnya menjadi antek Belanda (Brata, 1965;57). Karena kemampuannya, Mohammad Bakhtiar diminta menuliskan pengalaman dan perjuangan spionase TKR bernama Letnan Baidowi yang gugur dalam pertempuran di Salatiga. Catatan Letnan Baidowi ternyata tidak hanya berisi kisah perjuangannya di garis depan, tetapi berisi surat yang mengungkap pengkhianatan Dondi Suherman hingga tentara Republik kalah dalam pertempuran. Gambaran pengkhianatan oleh warga bangsa sendiri pada masa revolusi fisik juga terlihat dalam novel MSA melalui pengkhianatan kaum komunis dalam pemberontakan yang gagal di Madiun pada tahun 1948. Masa Orde Lama (Percobaan Demokrasi) Ricklefs (2005;471-508) mencatat masa percobaan demokrasi (1950-1957) dan masa demokrasi terpimpin (1957-1965) dalam alam kemerdekaan sebagai masa yang dipenuhi rentetan kegagalan para pemimpin bangsa dalam memenuhi harapan-harapan tinggi setelah tercapainya kemerdekaan. Dalam periode masa demokrasi terpimpin ini, bangsa Indonesia tidak hanya menghadapi maslah kemiskinan dan kebodohan, tetapi juga peristiwa percobaan kudeta yang gagal oleh kaum komunis atau yang dikenal dengan Gerakan 30 September 1965. Dalam KREMIL, Suparto Brata menggambarkan periode masa percobaan demokrasi itu dengan perjuangan kaum perempuan yang tersingkir sebagai korban peristiwa politik tahun 1948 dan 1965. Peristiwa September 1965 menjadi titik tolak petualangan Marini menuntut balas kematian orang tuanya. Sepulang sekolah, Marini mendapati rumahnya dalam keadaan kosong dan tanpa rasa curiga menuruti ajakan pamannya, Sugeng, ke tempat rapat Barisan Tani Indonesia (BTI) onderbouw PKI. Di tempat inilah Marini tahu bahwa seluruh keluarganya telah dibantai dan mayatnya dimasukkan ke dalam lubang sumur di samping rumahnya. Marini atau Suyati, seorang remaja SMA, terseret dalam petualangan memburu dan membongkar kejahatan anggota PKI yang telah membantai keluarganya. Dalam upayanya membongkar kejahatan Sugeng, Marini yang menyamar menggunakan nama Suyati, bertemu dengan Darji, seorang polisi menantu bangsawan yang keluarganya juga menjadi korban keganasan PKI. Suyati dan Darji menyisir tempat-tempat yang diduga menjadi persembunyian Sugeng dari lokalisasi Silir (Solo) hingga Kremil (Surabaya). Pencarian Suyati dan Darji itu secara langsung juga mengungkap perempuan-perempuan korban peristiwa politik tersebut yang berjuang demi mempertahankan hidup dengan bekerja sebagai PSK atau Pekerja Seks Komersial di lokalisasi Kremil. Meskipun bekerja di bawah tekanan karena dianggap sebagai “sampah” masyarakat, para perempuan itu berusaha tegar dan tetap membuat hidupnya berarti, setidaknya bagi sesamanya di lokalisasi dan keluarganya di kampung. Pengkhianatan dan kebodohan kaum komunis terpapar pula dalam novel DWC. Kasminta dan Jumilah adalah anak muda desa biasa yang terbujuk rayuan anggota PKI sehingga masuk dalam Barisan Tani Indonesia (BTI). Dalam pelariannya akibat pemberontakan komunis yang gagal di Jakarta, Kasminta menyamar menjadi Susmanta tetapi tetap menggunakan cara-cara komunis untuk menyingkirkan orang-orang yang tidak seideologi dengannya. Den Darmin, bekas tentara yang telah berjuang menumpas pemberontakan PKI Madiun dibunuh secara keji di tengah sawah. Ia juga menggalang dan memprovokasi masa untuk mengeroyok bekas gurunya yang dianggap menentang kehadirannya. DWC secara jelas menggambarkan orang-orang komunis sebagai orang culika ‘curang, jahat’ yang selalu mencari cara untuk merongrong mengkhianati perjuangan bangsa, dan selalu membuat kekacauan. Tokoh Suryaningsih di dalam Kremil secara tajam menggambarkan pengkhianatan kaum komunis pada periode akhir Orde Lama membuat bangsa Indonesia jatuh dalam situasi masa yang sangat buruk: “Tahun 1945 kita memproklamirkan diri sebagai bangsa yang beradab, tahun 1965 kita menjadi bangsa biadab” (Brata, 2002;472). Masa Orde Baru Awal (1965-1975) Periode tahun 1965-1975 sebagai masa penciptaan Orde Baru dengan dukungan orang-orang yang ingin bebas dari kekacauan akibat percobaan kudeta yang gagal oleh PKI pada masa Orde Lama. Akan tetapi, kondisi penegakan hukum dan penegakan HAM tampaknya dinilai lebih baik pada masa pemerintahan kolonial Belanda (Ricklefs, 2005;594). Gambaran kehidupan awal Orde Baru terlihat dalam novel KREMIL yang secara jelas mencamtumkan latar waktu tahun 1965-1967. Lokalisasi Kremil menjadi representasi keadaan awal Orde Baru yang sangat sulit dari sisi ekonomi dan kacau dari segi politik. Para perempuan desa korban peristiwa politik tahun 1948 dan 1965 berjuang mempertahankan hidup di Surabaya dengan bekerja sebagai pekerja seks komersial. Para pekerja seks komersial yang seringkali dimarginalkan sebagai sampah masyarakat itu diperlihatkan sebagai perempuan-perempuan tangguh yang dalam keterpurukannya tetap menunjukkan semangat untuk memberi arti pada lingkungan dan bangsanya. Tidak sedikit kontribusi yang diberikan oleh lokalisasi Kremil dan PSK-nya dalam pembangunan, meskipun, demi menjaga moral, sumbangan itu seringkali diingkari dan dinafikan. Di samping menggambarkan para perempuan korban perubahan situasi politik akibat pemberontakan dan pengkhianatan kaum komunis, Kremil juga menggambarkan kekangan pemerintah Orde Baru terhadap kebebasan berpikir rakyatnya. Kekangan itu terlihat melalui tokoh orang tua Suryaningsih yang selalu mengatur dan mengontrol segala keinginan anaknya. Suryaningsih memilih menjadi PSK daripada dipaksa orangtuanya menjadi manusia munafik dengan menikahi laki-laki yang berkedudukan tinggi, tetapi berperilaku buruk: “Kremil ini dunia kebebasanku dan juga diriku milikku sendiri” (Brata, 2002a;96). Karya Sastra sebagai Sarana Pendidikan Sejarah Bangsa Telah dikemukakan sebelumnya bahwa tiga peranan simbol dalam karya sastra yang menggunakan materi sejarah tidak dapat dipisah-pisahkan secara tegas sehingga campur tangan dan motivasi pengaranglah yang membedakannya. Ketika menulis sastra Suparto Brata tidak berpretensi menulis karya historis, tetapi secara sadar menggunakan karya sastra sebagai media untuk menuangkan gagasan dan pikiran-pikirannya tentang sejarah bangsa (Untoro, 2006;29). Suparto Brata (dlm Untoro, 2006;50) mengatakan bahwa kecelakaan terbesar bangsa Indonesia adalah tidak mengajari bagaimana mencintai membaca dan menulis kepada anak-anak sejak dini sehingga mereka tumbuh menjadi anak bangsa yang buta pengetahuan dan buta sejarah bangsanya serta tidak dapat hidup secara modern. Hal itu menggambarkan posisi pemerintah dan masyarakat yang kurang mempedulikan serta menghargai sejarah bangsanya (Djokosujatno, 2002). Jika Indonesia ingin tampil sebagai bangsa modern, pendidikan membaca dan menulis harus dibudayakan sejak dini, tidak hanya diajarkan di perguruan tinggi menjelang pembuatan skripsi. Dengan membaca buku, bangsa Indonesia akan mempelajari sejarah dan segala ilmu pengetahuan yang penting untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, kehidupan yang berperadaban dan bermartabat (Brata, 2007c). Sejarah berhutang pada budaya tulis karena pengalaman atau peristiwa penting yang pernah dilihat, dialami, dan dirasakan manusia akan hilang jika tidak dituliskan atau didokumentasikan serta tidak akan dapat dibaca dan dipelajari oleh generasi selanjutnya, dan sebaliknya tanpa membaca buku, bangsa Indonesia tidak akan memeplajari sejarahnya. Hidup suatu bangsa akan mapan jika menempatkan sejarah pada posisi yang penting dalam pembangunan bangsa karena sejarah memiliki tiga dimensi waktu, yaitu masa lalu, masa kini, dan masa depan. Bangsa yang tidak mau belajar sejarah akan selalu seperti bayi baru lahir, tidak memiliki dimensi masa lalu sehingga harus selalu mengawali hidup dari titik nol. Dalam tulisan “Donyane Wong Culika Jilid II”, Suparto Brata (2007b; 16-18) mengatakan bahwa hingga saat ini bangsa Indonesia masih tergolong bangsa primitif karena kiat hidupnya hanya dari melihat dan mendengar, sebagaimana kodratnya. Tidak seperti melihat dan mendengar yang bersifat kodrati, membaca dan menulis tidak mungkin dapat dikuasai manusia tanpa diajarkan, dibiasakan, dan dibudayakan. Weruh lan krungu kuwi kodrat, dene maca lan nulis kuwi kawruh panguripan. Mula maca lan nulis kuwi kudu disinau, diajarake, diwulangake, diwuruki, digladhi, dikulinakake, dilantipake, lan dibudayakake (Brata, 2005c). ‘Melihat dan mendengar itu kodrat, adapun membaca dan menulis itu ilmu kehidupan sehingga membaca dan menulis itu harus dipelajari, diajarkan, dilatih, dibiasakan, dan dibudayakan’ Pada masa pemerintahan kolonial Belanda dan pendudukan Jepang, pendidikan membaca dan menulis sudah diberikan sejak sekolah rakyat, tetapi ketika Indonesia merdeka, terutama pada era Orde Baru, anak sekolah tidak pernah diajari membaca dan menulis lagi sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bodoh, primitif, dan semakin jauh tertinggal dari bangsa-bangsa modern. Keinginan untuk mengenalkan dan membuka mata generasi muda agar memahami dan menghargai sejarah bangsanya itulah yang memotivasi Suparto Brata menggunakan materi sejarah dalam karya prosanya. Ia berharap bangsa Indonesia mendapat pelajaran “sejarah bangsa” dari pengalaman dan penghayatan hidupnya selama tiga zaman. Dengan bingkai sejarah, novel-novel Suparto Brata mencoba memperlihatkan perbedaan nasib orang-orang yang mau belajar dan orang-orang yang tidak mau belajar. Tokoh Rokhim (MSA), Kasminta dan Jumilah (DWC), Turnadi (NM), Sugeng dan Herman (Kremil), Manguntaruh dan Dasiyun (GT, KR dan MdUT), Dondi Suhirman (SL), dan Raden Mas Yogyantara (DsiB) mewakili gambaran manusia yang tidak mau belajar sehingga hidupnya berakhir tragis. Orang-orang komunis seperti Rokhim, Kasminta, Sugeng dan Herman terlibat dalam gerakan 30S/PKI pada tahun 1965 karena tidak belajar sejarah bahwa pemberontakan komunis pada masa lalu (peristiwa Madiun 1948) telah gagal. Kebodohan Turnadi, Rokhim, Kasminta, Dondi Suherman, Yogyantara, Manguntaruh dan Dasiyun membuat mereka tidak dapat membedakan perbuatan yang benar dan salah sehingga memilih menjadi kaki tangan musuh, menjadi antek-antek penjajah, melemahkan, dan menggerogoti perjuangan bangsa sendiri. Akibat kebodohan mereka, ribuan nyawa tidak berdosa harus mati sia-sia dan ribuan orang lainnya hidup dalam penderitaan. Tokoh-tokoh tersebut juga berakhir tragis. Di sisi lain, tokoh-tokoh yang mau belajar membaca dan menulis, seperti Teyi (GT, KR, MdUT) dan Rokhayah (MSA) dapat meningkat martabat hidupnya, tinggi rasa kemanusiaannya, menjadi pemimpin di lingkungannya, tidak mudah dihasut untuk mengkhianati perjuangan bangsa sendiri, dan dapat membedakan perbuatan baik dan buruk sehingga tidak terjebak pada putaran nasib yang sama. Pendidikan menjadi kunci transformasi ke arah hidup yang lebih baik. Akan tetapi, seringkali tokoh-tokoh yang potensial itu justru mati di tangan orang-orang culika ‘curang, jahat’ yang masih banyak di negeri ini. Suparto Brata mengemukakan istilah nekrofilia dalam DWC untuk menggambarkan bangsa Indonesia. Dalam sebuah percakapannya dengan Pratinah, Steffie Tjia (pejuang dari etnis Tionghoa yang dibantai komunis hanya karena pernah menempuh pendidikan kedokteran di Amerika) mengatakan bahwa “Bangsa Indonesia ini adalah bangsa nekrofilia, yaitu berpotensi membangun, tetapi digerogoti oleh kekuatan bangsa sendiri”. Den Darmin, seorang bekas tentara yang pernah terlibat dalam operasi penumpasan pemberontakan PKI Madiun tetapi kemudian memilih pensiun dini dan berjuang dengan cara memberi bimbingan kepada para petani di desa agar dapat meningkatkan produktivitas pertaniannya serta mengajarkan sastra agar meningkat rasa kemanusiaannya, dibunuh secara keji oleh anggota komunis. Steffie Tjia dan Den Darmin merupakan contoh korban nekrofilia. Penutup Dari sebelas novel yang telah dibicarakan dapat ditarik suatu benang merah bagaimana “sejarah bangsa” ditafsirkan oleh Suparto Brata yaitu perjuangan hidup berbagai elemen bangsa: laki-laki-perempuan, wong cilik-bangsawan, tentara, jurnalis, sopir, orang dewasa, dan anak-anak yang tidak hanya harus berhadapan dengan musuh asing (baca penjajah), tetapi juga rongrongan dari saudara sebangsa. “Sejarah bangsa” juga ditafsirkan sebagai sejarah kebodohan dan pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mau belajar dari masa lalu dan membaca sejarah bangsanya. Secara implisit hal itu menyiratkan pemikiran pengarang bahwa musuh terbesar bangsa Indonesia dari dulu hingga kini sesungguhnya bukan Belanda, Jepang, Inggris atau sekutu, atau bangsa lainnya, tetapi kebodohan. Kebodohan telah menjerumuskan bangsa Indonesia menjadi bangsa nista yang hidup dalam penjajahan bangsa lain selama berabad-abad pada masa lalu. Kebodohan juga yang membuat bangsa Indonesia di era kemerdekaan kini tetap terpuruk dan tertinggal jauh dari bangsa-bangsa “modern”. Oleh karena itu, perjuangan melepaskan diri dari penjajahan bangsa lain itu memang penting, tetapi yang tidak kalah penting adalah perjuangan memerdekakan diri dari kebodohan, dan kebutaan baca tulis, dan kebutaan sejarah. Secara politik, bangsa Indonesia memang sudah mencapai kemerdekaannya, tetapi secara kultural masih hidup dalam alam kebodohan sehingga bangsa Indonesia harus berjuang lebih keras lagi untuk membebaskan diri dari belenggu kebodohan. Sebagaimana Nevins (Sugihastuti, 2007;161) yang mengatakan bahwa sejarah dapat menjadi cermin untuk melihat masa sekarang dan menjadi pedoman untuk menata masa depan, Suparto Brata pun tampaknya mencoba mengatakan bahwa masa lalu itu penting sebagai cermin untuk melangkah ke depan agar apa yang buruk di masa lalu tidak terulang lagi. Melalui novel-novelnya, ia berupaya membantu mengenalkan dan mengakrabkan masyarakat pada masa lalu bangsanya dengan harapan dapat menanamkan akar yang kuat sebagai landasan untuk merumuskan dan menata masa depan yang lebih baik. Karya prosa Suparto Brata ini barangkali dapat dijadikan sebagai semacam wacana alternatif tentang sejarah bangsa. Dikutip dari: LiNGUA, Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra, Volume 4, Nomor 1, Juni 2009, Unit Penerbitan Fakultas Humaniora dan Budaya, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahum (UIN) Malang. Abstract This writing is aimed to discuss about Indonesian history that is described and interpreted by Suparto brata in his novels, written in Indonesian and Javanese, mainly Sala Lelimengan (1965), Surabaya Tumpah darahku (1978), November Merah (1984), Kremil (2002), Saksi Mata (2002), Donyane Wong Culika (2004), Gadis Tangsi (2004), Mencari Sarang Angin (2005), Kerajaan Raminem (2005), Dom Sumurup ing Banyu (2006), and Mahligai di Ufuk Timur (2007). The course of Indonesian history in the novels ranges from Dutch colonialism era up to new sociopolitical order era. If the formal history records famous person only (usually men only), the history of Suparto Brata’s version presents the role and struggle of people from various regime all with its humanistic perspective. Indonesian history is interpreted as the struggle against stupidity and betrayal of people who didn’t learn from the past. The choice of using historical subject can be read and interpreted as an effort of the writer to question and ask readers to understand and appreciate the history of their nation as a meaningful thing, a valuable lesson for a better future. Keywords Nation History Literary Work, History Education. Pendahuluan Sejak sebelum kemerdekaan, sastra Indonesia sudah mengenal novel-novel berlatar sejarah, seperti Suropati dan Robert Anak Suropati karya Abdul Muis serta Hulu Balang Raja karya Nur Sutan Iskandar. Pada era kemerdekaan, karya sastra berlatar sejarah umumnya mengambil peristiwa sejarah perang kemerdekaan sampai setelah tahun 1949-an. Pada tahun 1980-1990-an muncul karya-karya prosa Indonesia berlatar sejarah pula, antara lain Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer, Burung-Burung Manyar karya YB. Mangunwijaya, trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, serta Para Priyayi karya Umar Kayam. Selain Burung-Burung Manyar dan Para Priyayi, pada umumnya karya-karya tersebut menggunakan latar waktu sezaman. Jika tetralogi Pulau Buru dan Burung-Burung Manyar ditempatkan dalam sejarah bangsa, ada waktu yang “kosong” beberapa periode karena tetralogi Pulau Buru hanya mengungkap era kolonialisme Belanda dan Burung-Burung Manyar (meskipun merentang periode 1943-1979) tidak mengungkap masa Orde Lama dan Orde Baru. Kekosongan itu terisi oleh terbitnya Para Priyayi yang mengungkap periode waktu tahun 1930-1967 (Mahayana, 2007;278-279) sehingga menggambaran perjalanan “sejarah bangsa” yang relatif lengkap. Tiga tahun terakhir ini dunia sastra Indonesia juga diramaikan oleh munculnya novel-novel bertemakan sejarah dengan setting waktu yang lebih lampau, seperti serial Gajah Mada oleh Langit Kresna Hariadi, Dyah Pitaloka, Senja di Langit Majapahit karya Hermawan Aksan, Pangeran Diponegoro karya Remy Silado, Rahasia Meede; Misteri Harta Karun VOC karya E.S.Ito, dan Pelangi di Atas Glagahwangi karya S.Tidjab. Maraknya novel-novel bertemakan sejarah tersebut mengundang diskusi yang menarik di kalangan pengamat atau pelaku sastra dan sejarawan berkaitan dengan hubungan antara sastra dan sejarah. Kuntowijoyo (1987;127) mengemukakan bahwa objek karya sastra adalah realitas (apapun yang dimaksud dengan realitas oleh pengarang). Jika realitas yang dijadikan sebagai objeknya adalah peristiwa sejarah, karya sastra dapat: (1) mencoba menerjemahkan peristiwa itu dalam bahasa imajiner dengan maksud untuk memahami peristiwa sejarah menurut kadar kemampuan pengarangnya; (2) menjadi sarana bagi pengarangnya untuk menyampaikan perasaan, pikiran, dan tanggapannya mengenai suatu peristiwa sejarah; dan (3) merupakan penciptaan kembali sebuah peristiwa sejarah sesuai dengan pengetahuan dan daya imajinasi pengarangnya, seperti halnya dengan karya sejarah. Ketiga hal itu menunjukkan peran karya sastra sebagai simbol verbal, yaitu sebagai cara pemahaman (mode of conprehension), cara perhubungan (mode of communication), dan cara penciptaan (mode of creation). Ketiga peranan simbol tersebut dapat menjadi satu karena perbedaan-perbedaannya lebih merupakan asumsi teoretis yang sulit dipilah-pilah dalam penciptaan suatu karya sastra. Campur tangan dan motivasi pengarang yang membedakannya. Dalam karya sastra yang diciptakan sebagai cara pemahaman, kadar peristiwa sejarah sebagai aktualitas atau kadar faktisitasnya akan lebih tinggi daripada kadar imajinasi pengarang, sedangkan dalam karya sastera sebagai cara penciptaan kadar faktisitasnya lebih rendah daripada imajinasi pengarang. Dalam karya sastra sebagai cara perhubungan, faktisitas dan imajinasi pengarang sama kadarnya. * Dalam konteks diskusi sastra dan sejarah itulah, perlu dibicarakan novel-novel karya pengarang dwibahasawan dari Surabaya, Suparto Brata, yang hampir selalu menggunakan peristiwa sejarah sebagai objek atau latarnya, tetapi selama ini nyaris luput dari perhatian para pengamat sastra. Suiparto Brata memiliki perhatian yang besar pada sejarah, khususnya pada peristiwa sejarah yang terjadi di Kota Surabaya, seperti peristiwa pertempuran 10 November 1945. Dalam novel November Merah (1984), yang diindonesiakan dari cerita bersambung “NOVEMBER ABANG” (terbit pertama kali di majalah Jaya Baya tanggal 7 September – 16 Oktober 1965) dan MENCARI SARANG ANGIN (2005a) Suparto Brata mengungkap perlawanan rakyat Surabaya dalam pertempuran heroik tersebut. Untuk “meyakinkan” pembaca, dia tampaknya merasa tidak cukup hanya menghadirkan tokoh-tokoh sejarah, seperti Bung Tomo, Gubernur Suryo, Dokter Sugiri, Bung Karno, Jenderal Mallaby dalam November Merah (1984) sehingga melengkapinya dengan foto-foto dari buku sejarah resmi, seperti foto peristiwa perobekan bendera Belanda di atap Hotel Oranje/Yamato Jalan Tunjungan. Dalam novel ini, batas antara nonfiksi dan fiksi dibaurkan sedemikian rupa. Perhatiannya terhadap pertempuran 10 November 1945 tidak lepas dari penghayatannya atas peristiwa tersebut dalam korelasinya dengan sejarah bangsa yaitu bahwa tanpa ada pertempuran 10 November 1945 tidak akan ada Perang Kemerdekaan Indonesia. Negara Kesatuan Republik Indonesia akan dicapai melalui perundingan atau diplomasi, bukan dengan perang, sehingga terkesan sebagai hadiah dari Ratu Belanda (Brata, 2007b;15). Pandangan ini sejalan dengan tulisan Ricklefs (2005;438) yang mencatat bahwa Pertempuran 10 November merupakan titik balik bagi Belanda yang selalu menganggap bahwa kemerdekaan hanyalah keinginan segelintir elit tanpa dukungan rakyat. Peristiwa itu merupakan lambang pengorbanan dan persatuan rakyat demi kemerdekaan. Jika beberapa sejarawan mulai melirik novel-novelnya sebagai bahan studi sejarah (novel SAKSI MATA, SURABAYA TUMPAH DARAHKU, NOVEMBER MERAH menjadi sumber sekunder studi sejarah Els Bogaerts dari NIOD [Nederlands Instituut voor Oorlogdocumentatie], dan novel MENCARI SARANG ANGIN, SURABAYA TUMPAH DARAHKU serta KREMIL menjadi sumber pelengkap penyusunan buku sejarah Orang-Orang Ambon di Surabaya, 1930-1945), sudah selayaknya pemerhati sastra menangkapnya sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang berharga dalam novel-novelnya yang patut dibicarakan dengan perspektif sastra. Jika Mahayana (2007;278-279) merangkai “sejarah perjalanan bangsa” yang “lengkap” harus melalui karya tiga pengarang, dalam karya-karya Suparto Brata sudah dapat dilihat lintasan sejarah Indoneis yang relatip “lengkap”, yaitu dalam novel SALA LELIMENGAN/SL (1965), SURABAYA TUMPAH DARAHKU/STD (1978), NOVEMBER MERAH/NM (1984), KREMIL/K (2002), SAKSI MATA/SM (2002), DONYANE WONG CULIKA/DWC (2004), GADIS TANGSI/GT (2004), MENCARI SARANG ANGIN/MSA (2005), KERAJAAN RAMINEM/KR (2006), DOM SUMURUP ING BANYU/DsiB (2006), dan MAHLIGAI DI UFUK TIMUR/MdUT (2007). Sejarah Bangsa dan Pergulatan Beragam Manusia Peristiwa sejarah yang menjadi objek atau melatari novel-novel Suparto Brata adalah sebagai berikut: SL (masa Agresi Militer Belanda I/1947); STD (zaman Pendudukan Jepang di Surabaya); NM (Kedatangan Tentara Sekutu/Pertempuran 10 November di Surabaya); K (Pemberontakan G30S/PKI/1965-1967); SM(zaman Pendudukan Jepang di Surabaya); DWC (Pemberontakan PKI tahun 1965); GT (zaman kolonialisme Belanda di Medan); MSA (masa kolonialisme Belanda-Pemberontakan PKI Madiun-Agresi Militer Belanda II/1935-1950); KR (Kedatangan Jepang/Peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang); DsiB (masa Agresi Militer Belanda I/1948); dan MdUT (zaman Pendudukan Jepang di Bagelen-Solo). Jika dirangkaikan, kesebelas novel tersebut mencakup periode waktu tahun 1935 (tercatat dalam MSA) hingga akhir September 1967 (tertulis dalam K), yang meliputi masa kolonialisme Belanda, masa pendudukan Jepang, Perang Kemerdekaan/Revolusi (Pertempuran 10 November, Agresi Militer Belanda pertama dan kedua, Pemberontakan PKI Madiun), Orde Lama/Pemberontakan G30S/PKI, dan awal Orde Baru. Novel-novel tersebut tidak sekadar mengungkap peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Indonesia sejak sebelum hingga sesudah kemerdekaan, tetapi juga menggambarkan perjuangan hidup manusia dari beragam kelas sosial, jenis kelamin, usia, dan profesi. Masa Kolonialisme Belanda Kolonialisme Belanda pada periode tahun 1927-1942 dalam sejarah Indonesia merupakan masa represi dan krisis ekonomi. Rezim Belanda memasuki masa yang paling menindas terhadap pribumi sehingga melahirkan perlawanan yang kuat meskipun berbeda pendapat, para elit tokoh bangsa waktu itu memiliki satu kesepahaman, yaitu tidak mungkin lagi bekerja sama dengan Belanda. Nasionalisme menempati posisi ideologis yang paling berpengaruh (Ricklefs, 2005;374). Kartodirdjo (1984;13-14) juga mencatat abad ke-20 sebagai abad bangkitnya nasionalisme di kalangan penduduk jajahan di Indonesia yang secara tegas telah merumuskan satu tujuan, yaitu kemerdekaan. Dalam beberapa hal, novel-novel Suparto Brata merefleksikan kolonialisme Belanda yang berbeda dengan catatan dua sejarawan tersebut, sebagaimana terungkap dalam novel GT dan MSA. Kedua novel itu tidak secara jelas memosisikan Belanda sebagai musuh, tetapi justru sebagai sumber wacana untuk meningkatkan peradaban bangsa Jawa (baca Indonesia), dengan menggambarkan transformasi seorang rakyat biasa berperadaban rendah menjadi priayi berperadaban tinggi melalui proses pendidikan membaca dan menulis dengan “kiblat” pada kemajuan peradaban bangsa Belanda. Melalui pendidikan membaca dan menulis, Rokhayah berhasil meningkatkan martabatnya dari gadis kampung yang bodoh dan liar menjadi priayi terhormat. Perubahan hidup Rokhayah itu dioposisikan dengan nasib Turnadi dan Rokhim yang menjadi pengkhianat bangsa hingga hidupnya berakhir tragis. Materi sejarah dalam novel ini dimanfaatkan sebagai penyampai gagasan pentingnya peran pendidikan dalam upaya membangun hidup merdeka dan bermartabat. Dalam GT menggambarkan kehidupan pribumi, baik dari kelas wong cilik (keluarga Wongsodirjo dan penghuni tangsi lainnya) maupun bangsawan (Kapten Sarjubehi) yang bekerja sebagai tentara Kompeni Belanda di tangsi militer Lorong Belawan, Medan. Akan tetapi, fokus novel ini tidak pada aktivitas tentara KNIL, melainkan pada perjuangan Teyi dan Raminem, anak dan istri Wongsodirjo serta para istri dan anak serdadu KNIL lainnya yang berasal dari Jawa. Dalam lingkungan yang liar dan serbakekurangan itulah, diperlihatkan bagaimana semangat Teyi mengubah hidupnya menjadi manusia berperadaban tinggi. Di bawah bimbingan Putri Parasi, Teyi mendapat pendidikan membaca, menulis, bahasa Jawa halus dan bahasa Belanda, serta sopan santun. Bekal pendidikan inilah yang mengendalikan hidup Teyi sehingga tidak terseret dalam kehidupan liar tangsi. Semangat dan cita-cita Teyi untuk membangun hidup yang bermartabat itu digambarkan tidak mendapat halangan dari Belanda atau Jepang, tetapi justru oleh Manguntaruh dan Dasiyun yang masih tergolong saudaranya. Dalam novel ini pun, oposisi menyangkut nasib orang-orang yang berpendidikan dan tidak berpendidikan sangat jelas dengan menempatkan keberhasilan hidup orang-orang yang mau belajar dan kegagalan hidup orang-orang yang hidup dalam kebodohan. Masa Pendudukan Jepang (1942-1945) Masa pendudukan Jepang dalam catatan Ricklefs (2005;405) merupakan periode yang paling menentukan dalam sejarah Indonesia karena pemerintah militer Jepang mengindoktrinasi, melatih, dan mempersenjatai generasi muda serta memberi kesempatan kepada para pemimpin untuk berhubungan dengan rakyat di tingkat bawah. Meskipun sama-sama ingin menguasai Indonesia, Belanda memaksakan suatu ketenangan yang tertib, sedangkan Jepang memobilisasi rakyat. Dengan meminta bantuan pemimpin-pemimpin Indonesia, Jepang mempolitisasi dan memobilisasi rakyat hingga ke tingkat desa untuk kepentingan perang hingga menggoncang kehidupan desa yang apolitis pada zaman kolonial Belanda. Peniadaan pengaruh Belanda, baik dalam hal politik maupun budaya, membangkitkan kesadaran nasional yang lebih mantap. Berbagai kebijakan Jepang itulah yang memungkinkan atau mendorong lahirnya revolusi Indonesia menentang kehadiran kembali tentara Belanda setelah Jepang menyerah. Di samping kebijakan yang secara tidak langsung menguntungkan bangsa Indonesia, Jepang juga membuat kebijakan yang sangat menyengsarakan. Membanjirnya mata uang pendudukan membuat tingkat inflasi yang sangat tinggi, pengaturan pangan dan tenaga kerja secara paksa (romusha), gangguan transportasi, dan kekacauan umum mengakibatkan timbulnya kelaparan, kematian, dan kesengsaraan. Refleksi atas kehidupan bangsa Indonesia pada masa pendudukan Jepang dalam karya prosa Suparto Brata adalah gambaran masa-masa kegelapan karena kelaparan, ketakutan, dan kekejaman Jepang yang di luar batas perikemanusiaan, sebuah gambaran yang sangat kontras dengan masa pemerintahan kolonial Belanda yang tertib dan teratur. Penderitaan akibat pendudukan Jepang itu tidak hanya dirasakan oleh masyarakat kelas bawah atau wong cilik, tetapi juga oleh keluarga bangsawan, seperti Raden Ayu Rumsari dalam novel SM yang dipaksa menjadi budak nafsu/jugun ianfu seorang komandan Jepang bernama Ichiro. Raden Ayu Rumsari bersama suaminya, Wiradad, berjuang melalui gerakan bawah tanah untuk menghancurkan tentara Jepang yang telah merendahkan martabat bangsanya. Kematian RA Rumsari membawa Kuntara yang baru berusia 13 tahun terlibat dalam perjuangan. Kuntura bekerja sama dengan Wiradad berhasil meledakkan gudang persenjataan Jepang yang berkedok pabrik karung. Peran anak-anak dalam perjuangan kemerdekaan menggambarkan bahwa nasionalisme bukan hanya milik orang dewasa. Kekejaman Jepang juga tergambar dalam KR yang merupakan kelanjutan dari GT. Novel ini mengungkap kehidupan para penghuni tangsi saat kedatangan tentara Jepang. Kaum lelaki atau para serdadu KNIL dikirim oleh Belanda ke Tanjung Balai untuk melindungi kilang minyak dan membendung serangan tentara Jepang……. Dalam novel MSA, kedatangan tentara Jepang juga digambarkan telah mengubah Surabaya menjadi kota kere dan gembel, penduduknya harus antri beras dan minyak, serta selalu dalam siaga mendengarkan bunyi sirine tanda serangan udara. Dalam kondisi demikian, Turnadi memilih menjadi tentara Jepang atau kenpeitai yang berarti memilih menjadi kaki tangan penjajah yang menindas bangsa sendiri. Ia tidak segan-segan membunuh Yayi dan Slamet, jurnalis dan pejuang yang mendedikasikan hidupnya untuk membebaskan bangsanya dari belenggu kolonialisme Berlanda. Jika dalam SM, KR, MdUT, dan MSA tokoh-tokohnya berasal dari etnis Jawa, STD menggambarkan perjuangan hidup komunitas etnis Ambon di Surabaya pada masa pendudukan Jepang. Kedekatan etnis Ambon dengan penguasa Belanda pada masa penjajahan Belanda membuat posisi komunitas Ambon selalu dicurigai sebagai mata-mata Belanda oleh Jepang dan dimusuhi oleh kaum pribumi etnis Jawa di Surabaya (Sugiarti, 2009;126). Penderitaan panjang komunitas Ambon dengan fokus pada keluarga Pastora tidak berhenti dengan kematian Pastora dalam siksaan tentara Jepang. Kedatangan tentera sekutu juga membawa bencana dan penderitaan yang tidak kalah menyakitkan berupa tindak pelecehan seksual: adik-adik Jootje diperkosa secara bergiliran oleh tentara Gurkha atau sekutu yang menyerbu rumahnya ketika ia sedang berusaha mencari obat untuk ibunya yang sakit. Rasa kebangsaan dan nasionalisme akhirnya mengalahkan sentimen kesukuan sehingga Jootje yang masih remaja mengajak ibu dan saudaranya tetap tinggal di Surabaya sebagai tanah airnya dan bersama-sama rakyat Surabaya berjuang mempertahankan kota dari pendudukan tentara sekutu. Masa Revolusi Kemerdekaan (1945-1950) Pada awal kemerdekaan, bangsa Indonesia dihadapkan pada pertarungan-pertarungan sengit antarindivvidu dan kekuatan-kekuatan sosial yang saling bertentangan sehingga menjadi periode yang kacau balau. Bangsa Indonesia yang baru merdeka tidak hanya menghadapi Belanda yang ingin menjajah kembali, tetapi juga menghadapi elemen bangsa sendiri yang berebut pengaruh dan kekuasaan. Surabaya menjadi arena pertempuran yang paling hebat sehingga terjadi lambang perlawanan nasional. Pada tanggal 20 Juli 1947, Belanda melancarkan aksi polisional atau Agresi Militernya yang pertama dan berakhir dengan perjanjian Renville, yang salah satu hasil kesepakatannya adalah garis demarkasi. Beberapa tokoh bangsa yang tidak puas dengan hasil perjanjian itu, bergabung dengan komunis melancarkan pemberontakan di Madiun tanggal 18 September 1948. Peristiwa Madiun menjadi titik balik revolusi yang sangat penting karena mengkhianati revolusi kemerdekaan. Pada tanggal 18 Desember 1948 bangsa Indonesia harus menghadapi aksi polisional atau Agresi Militer Belanda yang kedua (Ricklefs, 2005;428-468). Kekacauan masa revolusi kemerdekaan dalam perjalanan sejarah bangsa dapat dilihat dalam novel: SL, DsiB, NM, dan MSA. NM menggambarkan berakhirnya masa pendudukan Jepang yang ditandai oleh kedatangan tentara Sekutu di Surabaya. Novel ini diawali oleh pengkhianatan Turnadi dengan cara menyerahkan Mohammad Delar ke Kenpeitai. Mohammad Delar, yang hanya seorang sopir, mengira Nursalim telah menjebloskannya ke penjara Jepang karena ingin merebut istrinya. Kekalahan Jepang menyelamatkan Mohammad Delar dari penjara kenpeitai sehingga ia bisa mencari orang-orang yang mencoba mencelakainya. Ketika berusaha mencari Nursalim, Mohammad Delar diberitahu bahwa istrinya telah dinikahi oleh Nursalim. Akan tetapi, ternyata Nursalim hanya bermaksud menyelamatkannya dari kejahatan Turnadi yang diam-diam ingin merebut istri Mohammad Delar. Turnadi adalah temannya yang semasa Jepang berpihak menjadi tentara Jepang, sedangkan Nursalim menjadi komandan TKR yang disegani anak buahnya karena gigih menolak kedatangan sekutu. Meskipun marah, Mohammad Delar tetap bergabung dalam kesatuan TKR yang dikomandoi Nursalim dalam pertempuran 10 November. Dengan menepiskan perselisihan pribadi, mereka bersama-sama berjuang sampai titik darah penghabisan. Mohammad Delar dan Nursalim gugur sebagai pahlawan. Masa perang kemerdekaan atau agresi militer Belanda dari sisi dunia telik sandi ‘mata-mata’ terungkap dalam novel SL dan DsiB. DsiB menceritakan upaya Herlambang atau Hartono, seorang anggota Tentara Rakyat Indonesia, menerobos garis demarkasi dan menyusup ke wilayah Republik guna membongkar pengkhianat atau mata-mata musuh yang berkedok sebagai pejuang dengan cara menjadi pekerja di gudang senjata yang sudah dikuasai oleh pasukan Republik Indonesia. Dengan menyamar menjadi mata-mata sekutu, Herlambang berhasil mendapat logistik dari tentara Belanda sebagai bekal menyusup ke wilayah Republik. Dalam misinya itu, ia bertemu putri bangsawan Surakarta, Ngesthireni yang juga menyusup ke wilayah Republik untuk membongkar kejahatan saudara tirinya yang telah menjandikannya budak nafsu tentara Jepang hanya karena ingin menguasai hartanya. Herlambang dan Ngesthireni ternyata mencari orang yang sama, yaitu Raden Mas Yogyantara. Pada masa Jepang, RM Yogyantara menjadi mata-mata Jepang dan ketika Jepang menyerah pada sekutu ia beralih menjadi mata-mata Belanda dan mengkhianati perjuangan bangsa sendiri. Dunia spionase sebagai bagian dari perang revolusi juga tampak dalam SL yang mengungkap peran seorang jurnalis Surabaya mencari pengkhianat bangsa yang menyusup ke wilayah kekuasaan Republik pada masa pemberlakuan garis demarkasi: Ing Sala, ing dhaerah Republik, dheweke nemoni omah kang wong-wonge dadi antheke Landa. ‘Di Sala, di daerah Republik, dirinya menemukan rumah-rumah yang orang-orangnya menjadi antek Belanda (Brata, 1965;57). Karena kemampuannya, Mohammad Bakhtiar diminta menuliskan pengalaman dan perjuangan spionase TKR bernama Letnan Baidowi yang gugur dalam pertempuran di Salatiga. Catatan Letnan Baidowi ternyata tidak hanya berisi kisah perjuangannya di garis depan, tetapi berisi surat yang mengungkap pengkhianatan Dondi Suherman hingga tentara Republik kalah dalam pertempuran. Gambaran pengkhianatan oleh warga bangsa sendiri pada masa revolusi fisik juga terlihat dalam novel MSA melalui pengkhianatan kaum komunis dalam pemberontakan yang gagal di Madiun pada tahun 1948. Masa Orde Lama (Percobaan Demokrasi) Ricklefs (2005;471-508) mencatat masa percobaan demokrasi (1950-1957) dan masa demokrasi terpimpin (1957-1965) dalam alam kemerdekaan sebagai masa yang dipenuhi rentetan kegagalan para pemimpin bangsa dalam memenuhi harapan-harapan tinggi setelah tercapainya kemerdekaan. Dalam periode masa demokrasi terpimpin ini, bangsa Indonesia tidak hanya menghadapi maslah kemiskinan dan kebodohan, tetapi juga peristiwa percobaan kudeta yang gagal oleh kaum komunis atau yang dikenal dengan Gerakan 30 September 1965. Dalam KREMIL, Suparto Brata menggambarkan periode masa percobaan demokrasi itu dengan perjuangan kaum perempuan yang tersingkir sebagai korban peristiwa politik tahun 1948 dan 1965. Peristiwa September 1965 menjadi titik tolak petualangan Marini menuntut balas kematian orang tuanya. Sepulang sekolah, Marini mendapati rumahnya dalam keadaan kosong dan tanpa rasa curiga menuruti ajakan pamannya, Sugeng, ke tempat rapat Barisan Tani Indonesia (BTI) onderbouw PKI. Di tempat inilah Marini tahu bahwa seluruh keluarganya telah dibantai dan mayatnya dimasukkan ke dalam lubang sumur di samping rumahnya. Marini atau Suyati, seorang remaja SMA, terseret dalam petualangan memburu dan membongkar kejahatan anggota PKI yang telah membantai keluarganya. Dalam upayanya membongkar kejahatan Sugeng, Marini yang menyamar menggunakan nama Suyati, bertemu dengan Darji, seorang polisi menantu bangsawan yang keluarganya juga menjadi korban keganasan PKI. Suyati dan Darji menyisir tempat-tempat yang diduga menjadi persembunyian Sugeng dari lokalisasi Silir (Solo) hingga Kremil (Surabaya). Pencarian Suyati dan Darji itu secara langsung juga mengungkap perempuan-perempuan korban peristiwa politik tersebut yang berjuang demi mempertahankan hidup dengan bekerja sebagai PSK atau Pekerja Seks Komersial di lokalisasi Kremil. Meskipun bekerja di bawah tekanan karena dianggap sebagai “sampah” masyarakat, para perempuan itu berusaha tegar dan tetap membuat hidupnya berarti, setidaknya bagi sesamanya di lokalisasi dan keluarganya di kampung. Pengkhianatan dan kebodohan kaum komunis terpapar pula dalam novel DWC. Kasminta dan Jumilah adalah anak muda desa biasa yang terbujuk rayuan anggota PKI sehingga masuk dalam Barisan Tani Indonesia (BTI). Dalam pelariannya akibat pemberontakan komunis yang gagal di Jakarta, Kasminta menyamar menjadi Susmanta tetapi tetap menggunakan cara-cara komunis untuk menyingkirkan orang-orang yang tidak seideologi dengannya. Den Darmin, bekas tentara yang telah berjuang menumpas pemberontakan PKI Madiun dibunuh secara keji di tengah sawah. Ia juga menggalang dan memprovokasi masa untuk mengeroyok bekas gurunya yang dianggap menentang kehadirannya. DWC secara jelas menggambarkan orang-orang komunis sebagai orang culika ‘curang, jahat’ yang selalu mencari cara untuk merongrong mengkhianati perjuangan bangsa, dan selalu membuat kekacauan. Tokoh Suryaningsih di dalam Kremil secara tajam menggambarkan pengkhianatan kaum komunis pada periode akhir Orde Lama membuat bangsa Indonesia jatuh dalam situasi masa yang sangat buruk: “Tahun 1945 kita memproklamirkan diri sebagai bangsa yang beradab, tahun 1965 kita menjadi bangsa biadab” (Brata, 2002;472). Masa Orde Baru Awal (1965-1975) Periode tahun 1965-1975 sebagai masa penciptaan Orde Baru dengan dukungan orang-orang yang ingin bebas dari kekacauan akibat percobaan kudeta yang gagal oleh PKI pada masa Orde Lama. Akan tetapi, kondisi penegakan hukum dan penegakan HAM tampaknya dinilai lebih baik pada masa pemerintahan kolonial Belanda (Ricklefs, 2005;594). Gambaran kehidupan awal Orde Baru terlihat dalam novel KREMIL yang secara jelas mencamtumkan latar waktu tahun 1965-1967. Lokalisasi Kremil menjadi representasi keadaan awal Orde Baru yang sangat sulit dari sisi ekonomi dan kacau dari segi politik. Para perempuan desa korban peristiwa politik tahun 1948 dan 1965 berjuang mempertahankan hidup di Surabaya dengan bekerja sebagai pekerja seks komersial. Para pekerja seks komersial yang seringkali dimarginalkan sebagai sampah masyarakat itu diperlihatkan sebagai perempuan-perempuan tangguh yang dalam keterpurukannya tetap menunjukkan semangat untuk memberi arti pada lingkungan dan bangsanya. Tidak sedikit kontribusi yang diberikan oleh lokalisasi Kremil dan PSK-nya dalam pembangunan, meskipun, demi menjaga moral, sumbangan itu seringkali diingkari dan dinafikan. Di samping menggambarkan para perempuan korban perubahan situasi politik akibat pemberontakan dan pengkhianatan kaum komunis, Kremil juga menggambarkan kekangan pemerintah Orde Baru terhadap kebebasan berpikir rakyatnya. Kekangan itu terlihat melalui tokoh orang tua Suryaningsih yang selalu mengatur dan mengontrol segala keinginan anaknya. Suryaningsih memilih menjadi PSK daripada dipaksa orangtuanya menjadi manusia munafik dengan menikahi laki-laki yang berkedudukan tinggi, tetapi berperilaku buruk: “Kremil ini dunia kebebasanku dan juga diriku milikku sendiri” (Brata, 2002a;96). Karya Sastra sebagai Sarana Pendidikan Sejarah Bangsa Telah dikemukakan sebelumnya bahwa tiga peranan simbol dalam karya sastra yang menggunakan materi sejarah tidak dapat dipisah-pisahkan secara tegas sehingga campur tangan dan motivasi pengaranglah yang membedakannya. Ketika menulis sastra Suparto Brata tidak berpretensi menulis karya historis, tetapi secara sadar menggunakan karya sastra sebagai media untuk menuangkan gagasan dan pikiran-pikirannya tentang sejarah bangsa (Untoro, 2006;29). Suparto Brata (dlm Untoro, 2006;50) mengatakan bahwa kecelakaan terbesar bangsa Indonesia adalah tidak mengajari bagaimana mencintai membaca dan menulis kepada anak-anak sejak dini sehingga mereka tumbuh menjadi anak bangsa yang buta pengetahuan dan buta sejarah bangsanya serta tidak dapat hidup secara modern. Hal itu menggambarkan posisi pemerintah dan masyarakat yang kurang mempedulikan serta menghargai sejarah bangsanya (Djokosujatno, 2002). Jika Indonesia ingin tampil sebagai bangsa modern, pendidikan membaca dan menulis harus dibudayakan sejak dini, tidak hanya diajarkan di perguruan tinggi menjelang pembuatan skripsi. Dengan membaca buku, bangsa Indonesia akan mempelajari sejarah dan segala ilmu pengetahuan yang penting untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, kehidupan yang berperadaban dan bermartabat (Brata, 2007c). Sejarah berhutang pada budaya tulis karena pengalaman atau peristiwa penting yang pernah dilihat, dialami, dan dirasakan manusia akan hilang jika tidak dituliskan atau didokumentasikan serta tidak akan dapat dibaca dan dipelajari oleh generasi selanjutnya, dan sebaliknya tanpa membaca buku, bangsa Indonesia tidak akan memeplajari sejarahnya. Hidup suatu bangsa akan mapan jika menempatkan sejarah pada posisi yang penting dalam pembangunan bangsa karena sejarah memiliki tiga dimensi waktu, yaitu masa lalu, masa kini, dan masa depan. Bangsa yang tidak mau belajar sejarah akan selalu seperti bayi baru lahir, tidak memiliki dimensi masa lalu sehingga harus selalu mengawali hidup dari titik nol. Dalam tulisan “Donyane Wong Culika Jilid II”, Suparto Brata (2007b; 16-18) mengatakan bahwa hingga saat ini bangsa Indonesia masih tergolong bangsa primitif karena kiat hidupnya hanya dari melihat dan mendengar, sebagaimana kodratnya. Tidak seperti melihat dan mendengar yang bersifat kodrati, membaca dan menulis tidak mungkin dapat dikuasai manusia tanpa diajarkan, dibiasakan, dan dibudayakan. Weruh lan krungu kuwi kodrat, dene maca lan nulis kuwi kawruh panguripan. Mula maca lan nulis kuwi kudu disinau, diajarake, diwulangake, diwuruki, digladhi, dikulinakake, dilantipake, lan dibudayakake (Brata, 2005c). ‘Melihat dan mendengar itu kodrat, adapun membaca dan menulis itu ilmu kehidupan sehingga membaca dan menulis itu harus dipelajari, diajarkan, dilatih, dibiasakan, dan dibudayakan’ Pada masa pemerintahan kolonial Belanda dan pendudukan Jepang, pendidikan membaca dan menulis sudah diberikan sejak sekolah rakyat, tetapi ketika Indonesia merdeka, terutama pada era Orde Baru, anak sekolah tidak pernah diajari membaca dan menulis lagi sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bodoh, primitif, dan semakin jauh tertinggal dari bangsa-bangsa modern. Keinginan untuk mengenalkan dan membuka mata generasi muda agar memahami dan menghargai sejarah bangsanya itulah yang memotivasi Suparto Brata menggunakan materi sejarah dalam karya prosanya. Ia berharap bangsa Indonesia mendapat pelajaran “sejarah bangsa” dari pengalaman dan penghayatan hidupnya selama tiga zaman. Dengan bingkai sejarah, novel-novel Suparto Brata mencoba memperlihatkan perbedaan nasib orang-orang yang mau belajar dan orang-orang yang tidak mau belajar. Tokoh Rokhim (MSA), Kasminta dan Jumilah (DWC), Turnadi (NM), Sugeng dan Herman (Kremil), Manguntaruh dan Dasiyun (GT, KR dan MdUT), Dondi Suhirman (SL), dan Raden Mas Yogyantara (DsiB) mewakili gambaran manusia yang tidak mau belajar sehingga hidupnya berakhir tragis. Orang-orang komunis seperti Rokhim, Kasminta, Sugeng dan Herman terlibat dalam gerakan 30S/PKI pada tahun 1965 karena tidak belajar sejarah bahwa pemberontakan komunis pada masa lalu (peristiwa Madiun 1948) telah gagal. Kebodohan Turnadi, Rokhim, Kasminta, Dondi Suherman, Yogyantara, Manguntaruh dan Dasiyun membuat mereka tidak dapat membedakan perbuatan yang benar dan salah sehingga memilih menjadi kaki tangan musuh, menjadi antek-antek penjajah, melemahkan, dan menggerogoti perjuangan bangsa sendiri. Akibat kebodohan mereka, ribuan nyawa tidak berdosa harus mati sia-sia dan ribuan orang lainnya hidup dalam penderitaan. Tokoh-tokoh tersebut juga berakhir tragis. Di sisi lain, tokoh-tokoh yang mau belajar membaca dan menulis, seperti Teyi (GT, KR, MdUT) dan Rokhayah (MSA) dapat meningkat martabat hidupnya, tinggi rasa kemanusiaannya, menjadi pemimpin di lingkungannya, tidak mudah dihasut untuk mengkhianati perjuangan bangsa sendiri, dan dapat membedakan perbuatan baik dan buruk sehingga tidak terjebak pada putaran nasib yang sama. Pendidikan menjadi kunci transformasi ke arah hidup yang lebih baik. Akan tetapi, seringkali tokoh-tokoh yang potensial itu justru mati di tangan orang-orang culika ‘curang, jahat’ yang masih banyak di negeri ini. Suparto Brata mengemukakan istilah nekrofilia dalam DWC untuk menggambarkan bangsa Indonesia. Dalam sebuah percakapannya dengan Pratinah, Steffie Tjia (pejuang dari etnis Tionghoa yang dibantai komunis hanya karena pernah menempuh pendidikan kedokteran di Amerika) mengatakan bahwa “Bangsa Indonesia ini adalah bangsa nekrofilia, yaitu berpotensi membangun, tetapi digerogoti oleh kekuatan bangsa sendiri”. Den Darmin, seorang bekas tentara yang pernah terlibat dalam operasi penumpasan pemberontakan PKI Madiun tetapi kemudian memilih pensiun dini dan berjuang dengan cara memberi bimbingan kepada para petani di desa agar dapat meningkatkan produktivitas pertaniannya serta mengajarkan sastra agar meningkat rasa kemanusiaannya, dibunuh secara keji oleh anggota komunis. Steffie Tjia dan Den Darmin merupakan contoh korban nekrofilia. Penutup Dari sebelas novel yang telah dibicarakan dapat ditarik suatu benang merah bagaimana “sejarah bangsa” ditafsirkan oleh Suparto Brata yaitu perjuangan hidup berbagai elemen bangsa: laki-laki-perempuan, wong cilik-bangsawan, tentara, jurnalis, sopir, orang dewasa, dan anak-anak yang tidak hanya harus berhadapan dengan musuh asing (baca penjajah), tetapi juga rongrongan dari saudara sebangsa. “Sejarah bangsa” juga ditafsirkan sebagai sejarah kebodohan dan pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mau belajar dari masa lalu dan membaca sejarah bangsanya. Secara implisit hal itu menyiratkan pemikiran pengarang bahwa musuh terbesar bangsa Indonesia dari dulu hingga kini sesungguhnya bukan Belanda, Jepang, Inggris atau sekutu, atau bangsa lainnya, tetapi kebodohan. Kebodohan telah menjerumuskan bangsa Indonesia menjadi bangsa nista yang hidup dalam penjajahan bangsa lain selama berabad-abad pada masa lalu. Kebodohan juga yang membuat bangsa Indonesia di era kemerdekaan kini tetap terpuruk dan tertinggal jauh dari bangsa-bangsa “modern”. Oleh karena itu, perjuangan melepaskan diri dari penjajahan bangsa lain itu memang penting, tetapi yang tidak kalah penting adalah perjuangan memerdekakan diri dari kebodohan, dan kebutaan baca tulis, dan kebutaan sejarah. Secara politik, bangsa Indonesia memang sudah mencapai kemerdekaannya, tetapi secara kultural masih hidup dalam alam kebodohan sehingga bangsa Indonesia harus berjuang lebih keras lagi untuk membebaskan diri dari belenggu kebodohan. Sebagaimana Nevins (Sugihastuti, 2007;161) yang mengatakan bahwa sejarah dapat menjadi cermin untuk melihat masa sekarang dan menjadi pedoman untuk menata masa depan, Suparto Brata pun tampaknya mencoba mengatakan bahwa masa lalu itu penting sebagai cermin untuk melangkah ke depan agar apa yang buruk di masa lalu tidak terulang lagi. Melalui novel-novelnya, ia berupaya membantu mengenalkan dan mengakrabkan masyarakat pada masa lalu bangsanya dengan harapan dapat menanamkan akar yang kuat sebagai landasan untuk merumuskan dan menata masa depan yang lebih baik. Karya prosa Suparto Brata ini barangkali dapat dijadikan sebagai semacam wacana alternatif tentang sejarah bangsa. Dikutip dari: LiNGUA, Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra, Volume 4, Nomor 1, Juni 2009, Unit Penerbitan Fakultas Humaniora dan Budaya, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahum (UIN) Malang. Republik Indonesia Republik Indonesia adalah negara yang terbesar di Asia Tenggara. Terdiri atas ribuan pulau besar dan kecil. Di antaranya ada 5 pulau besar, yaitu pulau Jawa, pulau Sumatera, pulau Kalimantan, pulau Sulawesi dan pulau Irian. Sekarang jumlah penduduk Indonesia mencapai 220 juta orang lebih. Ini angka yang keempat terbesar di dunia. Indonesia menjadi negara merdeka pada tgl. 17 Agustus 1945, setelah Jepang kalah pada Perang Dunia II. 17 Agustus adalah Hari Kemerdekaan, dan diperingati secara besar-besaran di seluruh Indonesia. Presiden pertama RI adalah Soekarno. Beliau dipanggil Bung Karno. 'Bung' berarti kakak laki-laki dan sering dipakai sebagai panggilan akrab untuk laki-laki. Wakil presiden pertama adalah Mohammad Hatta. Beliau juga dipanggil Bung Hatta. Nama bandara internasional di Jakarta, Bandara Soekarno-Hatta, diambil dari nama kedua tokoh besar ini. Kata-kata dan Tata bahasa besar / terbesar diri / terdiri atas ribu / ribuan ratus / ratusan puluh / puluhan belas / belasan capai / mencapai jadi / menjadi keempat terbesar Hari Kemerdekaan : 独立記念日 ingat / memperingati / diperingati secara besar-besaran panggil / memanggil / dipanggil / panggilan arti / berarti ambil / mengambil / diambil   Pertanyaan  1. Negara mana yang paling besar di Asia Tenggara? 2. Sebutkanlah nama-nama pulau besar di Indonesia. 3. Sekarang jumlah penduduk Indonesia berapa orang, kira-kira? 4. Negara mana yang lebih banyak jumlah penduduknya daripada Indonesia? 5. Kapan Indonesia merdeka? 6. Siapa nama Presiden RI yang pertama? 7. Anda tahu semua nama presiden RI dari pertama sampai ke 6? 8. "Bung" berarti apa? 9. Apa nama bandara internasional di Jakarta? Dan itu berasal dari apa? 10. Sekarang jam 7 pagi di Tokyo. Di Jakarta jam berapa sekarang? 11. Selisih waktu Tokyo dan Jakarta berapa jam? 12. Kalau kita naik pesawat dari Narita jam 11, kapan sampai di Jakarta? 13. Mata uang RI 'Rupiah'. Hari ini satu yen berapa rupiah?     ~から成る 数千の学生 大小 世界の人口 100万人以上 勝つ/負ける 大々的に 日本全国 全世界 初代大統領 首相 市長 愛称 国際空港 国内空港 インドネシア語訳  1. 中国はアジアで一番大きな国です。 2. 北海道、本州、四国、九州というのが日本の4つの大きな島です。 3. 日本の現在の人口は約1億2000万人です。 4. インドネシアはおよそ60年前に独立しました。 5. インドネシアの人口は中国、インド、アメリカに次いで、世界第4位です。 6. 日本はワールドカップ(Piala Dunia)の予選(babak kualifikasi)で勝ちまし   た。 7. そのサッカー選手は「ヒデ」と呼ばれています。 8. 初代から第6代までの大統領の名前を言ってみてください。 9. 彼の愛称はGus Durです。 10. 現在の副大統領はなんという人ですか。 11.午前11時に成田を出発すれば、ジャカルタには現地時間(waktu   setempat)の16時には着きます。 12. インドネシア西部時間(WIB = Waktu Indonesia Barat)では今、何時です   か。 Percakapan (1) A : Apakah Anda tahu negara mana yang terbesar di Asia Tenggara? B : Sudah tentu tahu. Negara itu Republik Indonesia. A : Apakah Anda sudah pernah pergi ke Indonesia? B : Ya, sudah. Orang tua saya sekarang tinggal di sana. A : Oh, begitu. Kenapa mereka tinggal di sana? B : Karena ayah saya sekarang bekerja di sana untuk 5 tahun. A : Sudah berapa lama mereka tinggal di sana? B : Sudah 2 tahun. Tahun ini masuk tahun ke 3. A : Sudah berapa kali Anda pergi ke sana? B : Sudah 4 kali. Tahun lalu saya pergi ke sana 3 kali. A : Apakah orang tua Anda senang tinggal di sana? B : Ya. Senang sekali. Terutama mereka suka buah-buahan Indonesia.    Rasanya enak sekali. Dan mudah sekali untuk membeli makanan Jepang    di sana. Karena banyak sekali restoran Jepang dan supermarket    Jepang di sana. (2) A : Apakah Indonesia negara kepulauan? B : Ya. Indonesia terdiri atas ribuan pulau besar dan kecil. Di antaranya ada    5 pulau besar, yaitu pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan      pulau Irian. A : Ibu kota Jakarta ada di pulau mana? B : Jakarta ada di pulau Jawa. A : Berapa jumlah penduduk Indonesia sekarang? B : Sekarang sudah mencapai 220 juta orang lebih. A : Siapa presiden Republik Indonesia sekarang? B : Susilo Bambang Yudhoyono. A : Anda tahu siapa Ibu Megawati? Beliau presiden sebelum Yudhoyono. B : Kalau tidak salah beliau putri dari Soekarno, presiden pertama Indonesia. A : Anda benar. Bung Karno sekarang pun sangat populer di antara orang-    orang Indonesia. B : Siapa Bung Karno itu? A : Bung adalah panggilan akrab untuk laki-laki, artinya kakak laki-laki.    Dan Karno adalah singkatan dari nama Soekarno. Orang Indonesia    sering memanggilnya Bung Karno. Indonesia memiliki sekitar 17.504 pulau (menurut data tahun 2004; lihat pula: jumlah pulau di Indonesia), sekitar 6.000 di antaranya tidak berpenghuni tetap, menyebar sekitar katulistiwa, memberikan cuaca tropis. Pulau terpadat penduduknya adalah pulau Jawa, di mana lebih dari setengah (65%) populasi Indonesia. Indonesia terdiri dari 5 pulau besar, yaitu: Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya dan rangkaian pulau-pulau ini disebut pula sebagai kepulauan Nusantara atau kepulauan Indonesia. Peta garis kepulauan Indonesia, Deposit oleh Republik Indonesia pada daftar titik-titik koordinat geografis berdasarkan pasal 47, ayat 9, dari Konvensi PBB tentang Hukum Laut Indonesia memiliki lebih dari 400 gunung berapi and 130 di antaranya termasuk gunung berapi aktif. Sebagian dari gunung berapi terletak di dasar laut dan tidak terlihat dari permukaan laut. Indonesia merupakan tempat pertemuan 2 rangkaian gunung berapi aktif (Ring of Fire). Terdapat puluhan patahan aktif di wilayah Indonesia. Keadaan alam Sebagian ahli membagi Indonesia atas tiga wilayah geografis utama yakni: • Kepulauan Sunda Besar meliputi pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi. • Kepulauan Sunda Kecil meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. • Kepulauan Maluku dan Irian Pada zaman es terakhir, sebelum tahun 10.000 SM (Sebelum Masehi), pada bagian barat Indonesia terdapat daratan Sunda yang terhubung ke benua Asia dan memungkinkan fauna dan flora Asia berpindah ke bagian barat Indonesia. Di bagian timur Indonesia, terdapat daratan Sahul yang terhubung ke benua Australia dan memungkinkan fauna dan flora Australia berpindah ke bagian timur Indonesia. Pada bagian tengah terdapat pulau-pulau yang terpisah dari kedua benua tersebut. Karena hal tersebut maka ahli biogeografi membagi Indonesia atas kehidupan flora dan fauna yakni: • Daratan Indonesia Bagian Barat dengan flora dan fauna yang sama dengan benua Asia. • Daratan Indonesia Bagian Tengah (Wallacea) dengan flora dan fauna endemik/hanya terdapat pada daerah tersebut. • Daratan Indonesia Bagian Timur dengan flora dan fauna yang sama dengan benua Australia. Ketiga bagian daratan tersebut dipisahkan oleh garis maya/imajiner yang dikenal sebagai Garis Wallace-Weber, yaitu garis maya yang memisahkan Daratan Indonesia Barat dengan daerah Wallacea (Indonesia Tengah), dan Garis Lyedekker, yaitu garis maya yang memisahkan daerah Wallacea (Indonesia Tengah) dengan daerah IndonesiaTimur. Berdasarkan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1993, maka wilayah Indonesia dibagi menjadi 2 kawasan pembangunan: • Kawasan Barat Indonesia. Terdiri dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali. • Kawasan Timur Indonesia. Terdiri dari Sulawesi, Maluku, Irian/Papua, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Kepulauan Sunda Besar Terdiri atas pulau-pulau utama: Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi dan dengan ribuan pulau-pulau sedang dan kecil berpenduduk maupun tak berpenghuni. Wilayah ini merupakan konsentrasi penduduk Indonesia dan tempat sebagian besar kegiatan ekonomi Indonesia berlangsung. [sunting] Pulau Sumatra Pulau Sumatra, berdasarkan luas merupakan pulau terbesar keenam di dunia. Pulau ini membujur dari barat laut ke arah tenggara dan melintasi khatulistiwa, seolah membagi pulau Sumatra atas dua bagian, Sumatra belahan bumi utara dan Sumatra belahan bumi selatan. Pegunungan Bukit Barisan dengan beberapa puncaknya yang melebihi 3.000 m di atas permukaan laut, merupakan barisan gunung berapi aktif, berjalan sepanjang sisi barat pulau dari ujung utara ke arah selatan; sehingga membuat dataran di sisi barat pulau relatif sempit dengan pantai yang terjal dan dalam ke arah Samudra Hindia dan dataran di sisi timur pulau yang luas dan landai dengan pantai yang landai dan dangkal ke arah Selat Malaka, Selat Bangka dan Laut China Selatan. Di bagian utara pulau Sumatra berbatasan dengan Laut Andaman dan di bagian selatan dengan Selat Sunda. Pulau Sumatra ditutupi oleh hutan tropik primer dan hutan tropik sekunder yang lebat dengan tanah yang subur. Gungng berapi yang tertinggi di Sumatra adalah Gunung Kerinci di Jambi, dan dengan gunung berapi lainnya yang cukup terkenal yaitu Gunung Leuser di Nanggroe Aceh Darussalam dan Gunung Dempo di perbatasan Sumatra Selatan dengan Bengkulu. Pulau Sumatra merupakan kawasan episentrum gempa bumi karena dilintasi oleh patahan kerak bumi disepanjang Bukit Barisan, yang disebut Patahan Sumatra; dan patahan kerak bumi di dasar Samudra Hindia disepanjang lepas pantai sisi barat Sumatra. Danau terbesar di Indonesia, Danau Toba terdapat di pulau Sumatra. Kepadatan penduduk pulau Sumatra urutan kedua setelah pulau Jawa. Saat ini pulau Sumatra secara administratif pemerintahan terbagi atas 8 provinsi yaitu: • Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu dan Lampung dan 2 provinsi lain yang merupakan pecahan dari provinsi induk di pulau Sumatra yaitu Riau Kepulauan dan Kepulauan Bangka Belitung. [sunting] Pulau Kalimantan (Borneo) Kalimantan merupakan nama daerah wilayah Indonesia di pulau Borneo (wilayah negara Malaysia dan Brunei juga ada yang berada di pulau Borneo), berdasarkan luas merupakan pulau terbesar ketiga di dunia, setelah Irian dan Greenland. Bagian utara pulau Kalimantan, Sarawak dan Sabah, merupakan wilayah Malaysia yang berbatasan langsung dengan Kalimantan wilayah Indonesia dan wilayah Brunei Darussalam; di bagian selatan dibatasi oleh Laut Jawa. Bagian barat pulau Kalimantan dibatasi oleh Laut China Selatan dan Selat Karimata; di bagian timur dipisahkan dengan pulau Sulawesi oleh Selat Makassar. Di bagian tengah pulau merupakan wilayah bergunung-gunung dan berbukit; pegunungan di Kalimantan wilayah Indonesia tidak aktif dan tingginya dibawah 2.000 meter diatas permukaan laut; sedangkan wilayah pantai merupakan dataran rendah, berpaya-paya dan tertutup lapisan tanah gambut yang tebal. Pulau Kalimantan dilintasi oleh garis katulistiwa sehingga membagi pulau Kalimantan atas Kalimantan belahan bumi utara dan Kalimantan belahan bumi selatan. Kesuburan tanah di pulau Kalimantan kurang bila dibanding kesuburan tanah di pulau Jawa dan pulau Sumatera, demikian pula kepadatan penduduknya tergolong jarang. Pulau Kalimantan sama halnya pulau Sumatera, diliputi oleh hutan tropik yang lebat (primer dan sekunder). Secara geologik pulau Kalimantan stabil, relatif aman dari gempa bumi (tektonik dan vulkanik) karena tidak dilintasi oleh patahan kerak bumi dan tidak mempunyai rangkaian gunung berapi aktif seperti halnya pulau Sumatera, pulau Jawa dan pulau Sulawesi. Sungai terpanjang di Indonesia, Sungai Kapuas, 1.125 kilometer, berada di pulau Kalimantan. Saat ini pulau Kalimantan secara administratif pemerintahan terbagi atas 4 provinsi yaitu: • Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. [sunting] Pulau Jawa Pulau Jawa, merupakan pulau yang terpadat penduduknya per kilometer persegi di Indonesia. Pulau melintang dari Barat ke Timur, berada di belahan bumi selatan. Barisan pegunungan berapi aktif dengan tinggi diatas 3.000 meter diatas permukaan laut berada di pulau ini, salah satunya Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Gunung Bromo di Jawa Timur yang terkenal sangat aktif. Bagian selatan pulau berbatasan dengan Samudera India, pantai terjal dan dalam, bagian utara pulau berpantai landai dan dangkal berbatasan dengan Laut Jawa dan dipisahkan dengan pulau Madura oleh Selat Madura. Di bagian barat pulau Jawa dipisahkan dengan pulau Sumatera oleh Selat Sunda dan di bagian timur pulau Jawa dipisahkan dengan pulau Bali oleh Selat Bali. Hutan di pulau Jawa tidak selebat hutan tropik di pulau Sumatera dan pulau Kalimantan dan areal hutan dipulau Jawa semakin sempit oleh karena desakan jumlah populasi di pulau Jawa yang semakin padat dan umumnya merupakan hutan tersier dan sedikit hutan sekunder. Kota-kota besar dan kota industri di Indonesia sebagian besar berada di pulau ini dan ibukota Republik Indonesia, Jakarta, terletak di pulau Jawa. Secara geologik, pulau Jawa merupakan kawasan episentrum gempa bumi karena dilintasi oleh patahan kerak bumi lanjutan patahan kerak bumi dari pulau Sumatera, yang berada dilepas pantai selatan pulau Jawa. Saat ini pulau Jawa secara administratif pemerintahan terbagi atas 6 provinsi yaitu: • Banten, Daerah Khusus Ibukota - Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa - Yogyakarta dan Jawa Timur. [sunting] Pulau Sulawesi Pulau Sulawesi, merupakan pulau yang terpisah dari Kepulauan Sunda Besar bila ditilik dari kehidupan flora dan fauna oleh karena garis Wallace berada di sepanjang Selat Makassar, yang memisahkan pulau Sulawesi dari kelompok Kepulauan Sunda Besar di zaman es. Pulau Sulawesi merupakan gabungan dari 4 jazirah yang memanjang, dengan barisan pegunungan berapi aktif memenuhi lengan jazirah, yang beberapa di antaranya mencapai ketinggian diatas 3.000 meter diatas permukaan laut; tanah subur, ditutupi oleh hutan tropik lebat (primer dan sekunder). Sulawesi dilintasi garis katulistiwa di bagian seperempat utara pulau sehingga sebagian besar wilayah pulau Sulawesi berada di belahan bumi selatan. Di bagian utara, Sulawesi dipisahkan dengan pulau Mindanao - Filipina oleh Laut Sulawesi dan di bagian selatan pulau dibatasi oleh Laut Flores. Di bagian barat pulau Sulawesi dipisahkan dengan pulau Kalimantan oleh Selat Makassar, suatu selat dengan kedalaman laut yang sangat dalam dan arus bawah laut yang kuat. Di bagian timur, pulau Sulawesi dipisahkan dengan wilayah geografis Kepulauan Maluku dan Irian oleh Laut Banda. Pulau Sulawesi merupakan habitat banyak satwa langka dan satwa khas Sulawesi; di antaranya Anoa, Babi Rusa, kera Tarsius. Secara geologik pulau Sulawesi sangat labil secara karena dilintasi patahan kerak bumi lempeng Pasifik dan merupakan titik tumbukan antara Lempeng Asia, Lempeng Australia dan Lempeng Pasifik. Saat ini pulau Sulawesi secara administratif pemerintahan terbagi atas 6 provinsi yaitu: • Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo dan Sulawesi Utara. [sunting] Kepulauan Sunda Kecil Kepulauan Sunda Kecil merupakan gugusan pulau-pulau lebih kecil membujur di selatan katulistiwa dari pulau Bali di bagian batas ujung barat Kepulauan Sunda Kecil, berturut-turut ke timur adalah, pulau Lombok, pulau Sumbawa, pulau Flores, pulau Solor, pulau Alor; dan sedikit ke arah selatan yaitu pulau Sumba, pulau Timor dan pulau Sawu yang merupakan titik terselatan gugusan Kepulauan Sunda Kecil. Kepulauan Sunda Kecil merupakan barisan gunung berapi aktif dengan tinggi sekitar 2.000 sampai 3.700 meter diatas permukaan laut. Diantaranya yang terkenal adalah Gunung Agung di Bali, Gunung Rinjani di Lombok, Gunung Tambora di Sumbawa dan Gunung Lewotobi di Flores. Kesuburan tanah di Kepulauan Sunda Kecil sangat bervariasi dari sangat subur di Pulau Bali hingga kering tandus di Pulau Timor. Di bagian utara gugus kepulauan dibatasi oleh Laut Flores dan Laut Banda dan di selatan gugus kepulauan ini dibatasi oleh Samudera Hindia. Di bagian barat Kepulauan Sunda Kecil dipisahkan dengan pulau Jawa oleh Selat Bali dan di bagian timur, berbatasan dengan Kepulauan Maluku dan Irian (dipisahkan oleh Laut Banda) dan dengan Timor Leste berbatasan darat di pulau Timor. Berdasarkan kehidupan flora dan fauna maka sebenarnya pulau Bali masih termasuk Kepulauan Sunda Besar karena garis Wallace dari Selat Makassar di utara melintasi Selat Lombok ke selatan, memisahkan pulau Bali dengan gugusan Kepulauan Sunda Kecil lainnya di zaman es. Hutan di Kepulauan Sunda Kecil sangat sedikit, bahkan semakin ke timur gugus pulau maka hutan telah berganti dengan sabana; demikian juga kepadatan populasi di Kepulauan Sunda kecil sangat bervariasi, dari sangat padat di pulau Bali dan semakin ke timur gugus pulau maka kepadatan penduduk semakin jarang. Secara geologik, kawasan Sunda Kecil juga termasuk labil karena dilintasi oleh patahan kerak bumi di selatan gugusan Kepulauan Sunda Kecil yang merupakan lanjutan patahan kerak bumi diselatan pulau Jawa. Komodo, reptilia terbesar di dunia terdapat di pulau Komodo, salah satu pulau di kepulauan Sunda kecil. Danau Tiga Warna, merupakan kawasan yang sangat unik juga terdapat di Kepulauan Sunda Kecil, yaitu di Pulau Flores. Saat ini secara administratif pemerintahan Kepulauan Sunda kecil dibagi atas 3 provinsi yaitu: *Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. [sunting] Kepulauan Maluku dan Irian Kepulauan Maluku dan Irian, terdiri dari 1 pulau basar yaitu pulau Irian dan beberapa pulau sedang seperti pulau Halmahera, pulau Seram, pulau Buru dan Kepulauan Kei dan Tanimbar serta ribuan pulau-pulau kecil lainnya baik berpenghuni maupun tidak. Garis Weber memisahkan kawasan ini atas dua bagian yaitu Irian dan Australia dengan kepulauan Maluku sehingga di kepulauan Maluku, flora dan fauna peralihan sedangkan di Irian, flora dan fauna Australia. Sebagian besar kawasan ini tertutup hutan tropik primer dan sekunder yang lebat, kecuali di kepulauan Tanimbar dan Aru merupakan semak dan sabana. Gunung berapi yang tertinggi di kepulauan Maluku adalah Gunung Binaiya, setinggi 3.039 meter; sedangkan di pulau Irian pegunungan berapi aktif memlintang dari barat ke timur pulau, gunung yang tertinggi adalah Puncak Jaya setinggi 5.030 meter di atas permukaan laut. Pulau Irian juga merupakan pulau dengan kepadatan penduduk yang paling jarang di Indonesia, yaitu sekitar 2 orang per kilometer persegi. Secara geologik, kawasan Maluku dan Irian juga termasuk sangat labil karena merupakan titik pertemuan tumbukan ketiga lempeng kerak bumi, Lempeng Asia, Lempeng Australia dan Lempeng Pasifik. Palung laut terdalam di Indonesia terdapat di kawasan ini, yaitu Palung Laut Banda, kedalaman sekitar 6.500 meter dibawah permukaan laut. Saat ini secara administratif pemerintahan Kepulauan Maluku dan Irian dibagi atas: • Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Irian Jaya [sunting] Iklim Indonesia mempunyai iklim tropik basah yang dipengaruhi oleh angin monsun barat dan monsun timur. Dari bulan November hingga Mei, angin bertiup dari arah Utara Barat Laut membawa banyak uap air dan hujan di kawasan Indonesia; dari Juni hingga Oktober angin bertiup dari Selatan Tenggara kering, membawa sedikit uap air. Suhu udara di dataran rendah Indonesia berkisar antara 23 derajat Celsius sampai 28 derajat Celsius sepanjang tahun. Namun suhu juga sangat bevariasi; dari rata-rata mendekati 40 derajat Celsius pada musim kemarau di lembah Palu - Sulawesi dan di pulau Timor sampai di bawah 0 derajat Celsius di Pegunungan Jayawijaya - Irian. Terdapat salju abadi di puncak-puncak pegunungan di Irian: Puncak Trikora (Mt. Wilhelmina - 4730 m) dan Puncak Jaya (Mt. Carstenz, 5030 m). Ada 2 musim di Indonesia yaitu musim hujan dan musim kemarau, pada beberapa tempat dikenal musim pancaroba, yaitu musim di antara perubahan kedua musim tersebut. Curah hujan di Indonesia rata-rata 1.600 milimeter setahun, namun juga sangat bervariasi; dari lebih dari 7000 milimeter setahun sampai sekitar 500 milimeter setahun di daerah Palu dan Timor. Daerah yang curah hujannya rata-rata tinggi sepanjang tahun adalah Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bengkulu, sebagian Jawa barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Maluku Utara dan delta Mamberamo di Irian. Setiap 3 sampai 5 tahun sekali sering terjadi El-Nino yaitu gejala penyimpangan cuaca yang menyebabkan musim kering yang panjang dan musim hujan yang singkat. Setelah El Nino biasanya diikuti oleh La Nina yang berakibat musim hujan yang lebat dan lebih panjang dari biasanya. Kekuatan El Nino berbeda-beda tergantung dari berbagai macam faktor, antara lain indeks Osilasi selatan atau Southern Oscillation. [sunting] Data-data geografis Lokasi: Sebelah tenggara Asia, di Kepulauan Melayu antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Koordinat geografis: 6°LU - 11°08'LS dan dari 95°'BT - 141°45'BT Referensi peta: Asia Tenggara Wilayah: total darat: 1.922.570 km² daratan non-air: 1.829.570 km² daratan berair: 93.000 km² lautan: 3.257.483 km² Garis batas negara: total: 2.830 km: Malaysia 1.782 km, Papua Nugini 820 km, Timor Leste 228 km Negara tetangga yang tidak berbatasan darat: India di barat laut Aceh, Australia, Singapura, Filipina, Vietnam, Thailand, Brunei Darussalam, Kamboja, Thailand, Birma Garis pantai: 54.716 km Klaim kelautan: diukur dari garis dasar kepulauan yang diklaim zona ekonomi khusus: 200 mil laut laut yang merupakan wilayah negara: 12 mil laut Cuaca: tropis; panas, lembab; sedikit lebih sejuk di dataran tinggi Dataran: kebanyakan dataran rendah di pesisir; pulau-pulau yang lebih besar mempunyai pegunungan di pedalaman Tertinggi & terendah: titik terendah: Samudra Hindia 0 m titik tertinggi: Puncak Jaya 5.030 m Sumber daya alam: minyak tanah, kayu, gas alam, kuningan, timah, bauksit, tembaga, tanah yang subur, batu bara, emas, perak Kegunaan tanah: tanah yang subur: 9,9% tanaman permanen: 7,2% lainnya: 82,9% (perk. 1998) Wilayah yang diairi: 48.150 km² (perk. 1998) Bahaya alam: banjir, kemarau panjang, tsunami, gempa bumi, gunung berapi, kebakaran hutan, gunung lumpur, tanah longsor. Lingkungan - masalah saat ini: penebangan hutan secara liar/pembalakan hutan; polusi air dari limbah industri dan pertambangan; polusi udara di daerak perkotaan (Jakarta merupakan kota dengan udara paling kotor ke 3 di dunia); asap dan kabut dari kebakaran hutan; kebakaran hutan permanen/tidak dapat dipadamkan; perambahan suaka alam/suaka margasatwa; perburuan liar, perdagangan dan pembasmian hewan liar yang dilindungi; penghancuran terumbu karang; pembuangan sampah B3/radioaktif dari negara maju; pembuangan sampah tanpa pemisahan/pengolahan; semburan lumpur liar di Sidoarjo, Jawa Timur. Lingkungan - persetujuan internasional: bagian dari: Biodiversitas, Perubahan Iklim, Desertifikasi, Spesies yang Terancam, Sampah Berbahaya, Hukum Laut, Larangan Ujicoba Nuklir, Perlindungan Lapisan Ozon, Polusi Kapal, Perkayuan Tropis 83, Perkayuan Tropis 94, Dataran basah ditanda tangani, namun belum diratifikasi: Perubahan Iklim - Protokol Kyoto, Pelindungan Kehidupan Laut Geografi - catatan: di kepulauan yang terdiri dari sekitar 17.504 pulau (6.000 dihuni); dilintasi katulistiwa; di sepanjang jalur pelayaran utama dari Samudra Hindia ke Samudra Pasifik Pulau Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Sebuah pulau kecil di Laut Adriatik. Pulau adalah sebidang tanah yang lebih kecil dari benua dan lebih besar dari karang, yang dikelilingi air. Kumpulan beberapa pulau dinamakan pulau-pulau atau kepulauan (bahasa Inggris: archipelago). Konvensi PBB tentang Hukum Laut Internasional tahun 1982 (UNCLOS ’82) pasal 121 mendefinisikan pulau (Ingg.: island) sebagai "daratan yang terbentuk secara alami dan dikelilingi oleh air, dan selalu di atas muka air pada saat pasang naik tertinggi". Dengan kata lain, sebuah pulau tidak boleh tenggelam pada saat air pasang naik. Implikasinya, ada empat syarat yang harus dipenuhi agar dapat disebut sebagai 'pulau', yakni[1]: • memiliki lahan daratan • terbentuk secara alami, bukan lahan reklamasi • dikelilingi oleh air, baik air asin (laut) maupun tawar • selalu berada di atas garis pasang tinggi. Dengan demikian, gosong pasir, lumpur ataupun karang, yang terendam air pasang tinggi, menurut definisi di atas tak dapat disebut sebagai pulau. Begitupun gosong lumpur atau paparan lumpur yang ditumbuhi mangrove, yang terendam oleh air pasang tinggi, meskipun pohon-pohon bakaunya selalu muncul di atas muka air[1]. Pulau memiliki sebutan bermacam-macam di Indonesia. Bentuk tidak bakunya adalah pulo. Kata pinjaman dari bahasa Sanskerta juga kerap digunakan, nusa. Di lepas pantai timur Jawa orang menyebut pulau kecil sebagai gili. Jumlah pulau di Indonesia Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Jumlah pulau di Indonesia menurut data Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia tahun 2004 adalah sebanyak 17.504 buah. 7.870 di antaranya telah mempunyai nama, sedangkan 9.634 belum memiliki nama. Rekapitulasi jumlah pulau di Indonesia tahun 2004 No. Provinsi Jumlah pulau Jumlah Bernama Belum bernama 1. Nanggroe Aceh Darussalam 205 458 663 2. Sumatra Utara 237 182 419 3. Sumatra Barat 200 191 391 4. Riau 73 66 139 5. Jambi 16 3 19 6. Sumatra Selatan 43 10 53 7. Bengkulu 23 24 47 8. Lampung 86 102 188 9. Kepulauan Bangka Belitung 311 639 950 10. Kepulauan Riau 1.350 1.058 2.408 11. DKI Jakarta 111 107 218 12. Jawa Barat 19 112 131 13. Jawa Tengah 47 249 296 14. DI Yogyakarta 22 1 23 15. Jawa Timur 232 55 287 16. Banten 48 83 131 17. Bali 25 60 85 18. Nusa Tenggara Barat 461 403 864 19. Nusa Tenggara Timur 473 719 1.192 20. Kalimantan Barat 246 93 339 21. Kalimantan Tengah 27 5 32 22. Kalimantan Selatan 164 156 320 23. Kalimantan Timur 232 138 370 24. Sulawesi Utara 310 358 668 25. Sulawesi Tengah 139 611 750 26. Sulawesi Selatan 190 105 295 27. Sulawesi Tenggara 361 290 651 28. Gorontalo 96 40 136 29. Maluku 741 681 1.422 30. Maluku Utara 125 1.349 1.474 31. Papua 301 297 598 32. Irian Jaya Barat 956 989 1.945 Total 7.870 9.634 17.504 Sumber: Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia Khatulistiwa Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas (Dialihkan dari Katulistiwa) Belum Diperiksa Ekuator bumi Negara-negara yang berada pada garis khatulistiwa (merah) Dalam geografi, ekuator atau garis khatulistiwa (dari bahasa Arab: خط الإستوا) adalah sebuah garis imajinasi yang digambar di tengah-tengah planet di antara dua kutub dan paralel terhadap poros rotasi planet. Garis khatulistiwa ini membagi Bumi menjadi dua bagian belahan bumi utara dan belahan bumi selatan. Garis lintang ekuator adalah 0°. Panjang garis khatulistiwa Bumi adalah sekitar 40.070 km. Di khatulistiwa, matahari berada tepat di atas kepala pada tengah hari dalam equinox. Dan panjang siang hari sama sepanjang tahun kira-kira 12 jam. Antara equinox Maret dan September, latitud bagian utara Bumi menuju matahari yang dikenal sebagai Tropik Cancer, bagian bumi paling utara di mana matahari dapat berada tepat di atas kepala. Bagian selatan Bumi terjadi antara equinox bulan September dan Maret dinamakan Tropik Capricorn. Bagian bumi yang dilewati garis khatulistiwa ini kebanyakan samudra. Beberapa tempat yang dilalui khatulistiwa adalah: Tanda penunjuk khatulistiwa di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia. • Brasil • Ekuador • Gabon • Kepulauan Galapagos • Pulau Gilbert • Indonesia o Bonjol, Sumatra Barat o Halmahera serta pulau-pulau kecil di sekitarnya o Lingga dan satu pulau kecil lain dekat Sumatra o Pini - pulau kecil dekat Sumatra o Pontianak, Kalimantan Barat o Sulawesi • Kenya • Kolombia • Republik Kongo • Republik Demokratik Kongo • Kepulauan Line • Maladewa • Pulau Phoenix • Sao Tome dan Principe - melalui Pulau Ilhéu das Rolas • Somalia • Uganda Jawa Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Untuk kegunaan lain dari Jawa, lihat Jawa (disambiguasi). Jawa Topografi Jawa Geografi Lokasi Asia Tenggara Koordinat 7°30′10″LS,111°15′47″BT Kepulauan Kepulauan Sunda Besar Luas 126.700 km² (48.919,1 mil²) Ketinggian tertinggi 3.676 meter (12.060 kaki) Puncak tertinggi Semeru Negara Indonesia Provinsi Banten, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta Kota terbesar Jakarta Demografi Populasi 124 juta (per 2005) Kepadatan 979 Kelompok etnik Sunda, Jawa, Tengger, Badui, Osing, Banten, Cirebon, Betawi Jawa adalah sebuah pulau di Indonesia dengan penduduk 136 juta, pulau ini merupakan pulau berpenduduk terpadat di dunia dan merupakan salah satu wilayah berpenduduk terpadat di dunia. Pulau ini dihuni oleh 60% penduduk Indonesia. Ibu kota Indonesia, Jakarta, terletak di Jawa bagian barat. Banyak catatan sejarah Indonesia bertempat di Jawa, dahulu Jawa merupakan pusat kerajaan-kerajaan Hindu-Budha, Kesultanan Islam, Jantung Hindia Belanda Timur kolonial, dan merupakan pusat kampanye kemerdekaan Indonesia. Pulau ini mendominasi kehidupan sosial, politik, dan ekonomi bangsa Indonesia. Jawa terbentuk oleh peristiwa-peristiwa vulkanik, Jawa merupakan pulau ketiga belas terbesar di dunia dan terbesar kelima di Indonesia. Rantai gunung-gunung vulkanik membentuk tulang belakang yang terbentang sepanjang timur hingga barat pulau ini. Jawa menggunakan tiga bahasa utama, meskipun bahasa Jawa dominan dan merupakan bahasa asli dari 60 juta penduduk di Indonesia, jumlah terbesar yang mendiami Jawa. Sebagian besar dari mereka memahami dua bahasa, bahasa Indonesia baik sebagai bahasa pertama maupun ke dua. Sementara itu sebagian besar masyarakat Jawa adalah Muslim, Jawa memiliki percampuran beragam kepercayaan-kepercayaan religius, kesukuan dan budaya. Pulau ini dibagi menjadi empat provinsi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten, serta dua wilayah khusus, Jakarta dan Yogyakarta. • [sunting] Etimologi Asal mula nama 'Jawa' tidak jelas. Salah satu kemungkinan adalah nama pulau ini berasal dari tanaman jáwa-wut, yang banyak ditemukan di pulau ini pada masa purbakala, sebelum masuknya pengaruh India pulau ini mungkin memiliki banyak nama.[1] Ada pula dugaan bahwa pulau ini berasal dari kata jaú yang berarti "jauh".[2] Dalam bahasa Sansekerta yava berarti tanaman jelai, sebuah tanaman yang membuat pulau ini terkenal.[2] "Yawadvipa" disebut dalam epik India Ramayana. Sugriwa, panglima bangsa wanara (kera) pasukan Rama mengirimkan utusannya ke Yawadvipa (pulau Jawa), untuk mencari Shinta.[3] Kemudian berdasarkan kesusastraan India terutama pustaka Tamil, disebut dengan nama Sansekerta "yāvaka dvīpa" (dvīpa = pulau). Sumber lain mengajukan dugaan bahwa kata "Jawa" berasal dari akar kata dalam bahasa Proto-Austronesia, yang berarti 'rumah'.[4] Sumatera Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas (Dialihkan dari Sumatra) Untuk kegunaan lain dari Sumatera, lihat Sumatera (disambiguasi). "Sumatra" beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lain dari Sumatra, lihat Sumatra (disambiguasi). Sumatera Topografi Pulau Sumatera Geografi Lokasi Asia Tenggara Koordinat 0°00′ LU 102°00′ BT Kepulauan Kepulauan Sunda Besar Luas 470.000 km² Ketinggian tertinggi 3.805 m Puncak tertinggi Kerinci Negara Indonesia Provinsi Aceh, Bengkulu, Jambi, Lampung, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau Kota terbesar Medan (pop. 3.418.645 (2009)) Demografi Populasi 45 juta (per 2005) Kepadatan 96/km² Kelompok etnik Aceh, Batak, Minangkabau, Melayu, Rejang Sumatera atau Sumatra adalah pulau keenam terbesar di dunia yang terletak di Indonesia, dengan luas 443.065,8 km2. Penduduk pulau ini sekitar 42.409.510 jiwa (2000). Pulau ini dikenal pula dengan nama lain yaitu Pulau Percha, Andalas, atau Suwarnadwipa (bahasa Sanskerta, berarti "pulau emas"). Kemudian pada Prasasti Padang Roco tahun 1286 dipahatkan swarnnabhūmi dan bhūmi mālayu untuk menyebut pulau ini. Selanjutnya dalam naskah Negarakertagama dari abad ke-14 juga kembali menyebut "Bumi Malayu" (Melayu) untuk pulau ini. Daftar isi [sembunyikan] • 1 Etimologi o 1.1 Samudera menjadi Sumatera • 2 Sejarah • 3 Penduduk • 4 Transportasi • 5 Ekonomi • 6 Geografis o 6.1 Daftar gunung di Sumatera • 7 Sumber daya alam • 8 Administrasi • 9 Provinsi di Sumatera o 9.1 Kota besar • 10 Bahasa • 11 Budaya • 12 Lihat pula • 13 Referensi • 14 Pranala luar [sunting] Etimologi Asal nama Sumatera berawal dari keberadaaan Kerajaan Samudera (terletak di pesisir timur Aceh). Diawali dengan kunjungan Ibnu Batutah, petualang asal Maroko ke negeri tersebut di tahun 1345, dia melafalkan kata Samudera menjadi Samatrah, dan kemudian menjadi Sumatra atau Sumatera, selanjutnya nama ini tercantum dalam peta-peta abad ke-16 buatan Portugis, untuk dirujuk pada pulau ini, sehingga kemudian dikenal meluas sampai sekarang[1]. Nama asli Sumatera, sebagaimana tercatat dalam sumber-sumber sejarah dan cerita-cerita rakyat, adalah “Pulau Emas”. Istilah pulau ameh (bahasa Minangkabau, berarti pulau emas) kita jumpai dalam cerita Cindur Mata dari Minangkabau. Dalam cerita rakyat Lampung tercantum nama tanoh mas untuk menyebut pulau Sumatera. Seorang musafir dari Cina yang bernama I-tsing (634-713), yang bertahun-tahun menetap di Sriwijaya (Palembang sekarang) pada abad ke-7, menyebut Sumatera dengan nama chin-chou yang berarti “negeri emas”. Dalam berbagai prasasti, Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa (“pulau emas”) atau Suwarnabhumi (“tanah emas”). Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi. Naskah Buddha yang termasuk paling tua, Kitab Jataka, menceritakan pelaut-pelaut India menyeberangi Teluk Benggala ke Suwarnabhumi. Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa. Para musafir Arab menyebut Sumatera dengan nama Serendib (tepatnya: Suwarandib), transliterasi dari nama Suwarnadwipa. Abu Raihan Al-Biruni, ahli geografi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun 1030, mengatakan bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib. Namun ada juga orang yang mengidentifikasi Serendib dengan Srilangka, yang tidak pernah disebut Suwarnadwipa. Di kalangan bangsa Yunani purba, Sumatera sudah dikenal dengan nama Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai. Mungkin sekali negeri yang dimaksudkan adalah Barus di pantai barat Sumatera, yang terkenal sejak zaman purba sebagai penghasil kapur barus. Naskah Yunani tahun 70, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, yang artinya ‘pulau emas’. Sejak zaman purba para pedagang dari daerah sekitar Laut Tengah sudah mendatangi Nusantara, terutama Sumatera. Di samping mencari emas, mereka mencari kemenyan (Styrax sumatrana) dan kapur barus (Dryobalanops aromatica) yang saat itu hanya ada di Sumatera. Sebaliknya, para pedagang Nusantara pun sudah menjajakan komoditi mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika Timur, sebagaimana tercantum pada naskah Historia Naturalis karya Plini abad pertama Masehi. Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan beliau. Emas itu didapatkan dari negeri Ofir. Kitab Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-Na fiha). Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di Sumatera. Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di sanalah letak negeri Ofir Nabi Sulaiman a.s. [sunting] Samudera menjadi Sumatera Kata yang pertama kali menyebutkan nama Sumatra berasal dari gelar seorang raja Sriwijaya Haji (raja) Sumatrabhumi ("Raja tanah Sumatra"), [2] berdasarkan berita China ia mengirimkan utusan ke China pada tahun 1017. Pendapat lain menyebutkan nama Sumatera berasal dari nama Samudera, kerajaan di Aceh pada abad ke-13 dan ke-14. Para musafir Eropa sejak abad ke-15 menggunakan nama kerajaan itu untuk menyebut seluruh pulau. Sama halnya dengan pulau Kalimantan yang pernah disebut Borneo, dari nama Brunai, daerah bagian utara pulau itu yang mula-mula didatangi orang Eropa. Demikian pula pulau Lombok tadinya bernama Selaparang, sedangkan Lombok adalah nama daerah di pantai timur pulau Selaparang yang mula-mula disinggahi pelaut Portugis. Peralihan Samudera (nama kerajaan) menjadi Sumatera (nama pulau) menarik untuk ditelusuri. Odorico da Pordenone dalam kisah pelayarannya tahun 1318 menyebutkan bahwa dia berlayar ke timur dari Koromandel, India, selama 20 hari, lalu sampai di kerajaan Sumoltra. Ibnu Bathutah bercerita dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) bahwa pada tahun 1345 dia singgah di kerajaan Samatrah. Pada abad berikutnya, nama negeri atau kerajaan di Aceh itu diambil alih oleh musafir-musafir lain untuk menyebutkan seluruh pulau. Pada tahun 1490 Ibnu Majid membuat peta daerah sekitar Samudera Hindia dan di sana tertulis pulau Samatrah. Peta Ibnu Majid ini disalin oleh Roteiro tahun 1498 dan muncullah nama Camatarra. Peta buatan Amerigo Vespucci tahun 1501 mencantumkan nama Samatara, sedangkan peta Masser tahun 1506 memunculkan nama Samatra. Ruy d’Araujo tahun 1510 menyebut pulau itu Camatra, dan Alfonso Albuquerque tahun 1512 menuliskannya Camatora. Antonio Pigafetta tahun 1521 memakai nama yang agak ‘benar’: Somatra. Tetapi sangat banyak catatan musafir lain yang lebih ‘kacau’ menuliskannya: Samoterra, Samotra, Sumotra, bahkan Zamatra dan Zamatora. Catatan-catatan orang Belanda dan Inggris, sejak Jan Huygen van Linschoten dan Sir Francis Drake abad ke-16, selalu konsisten dalam penulisan Sumatera. Bentuk inilah yang menjadi baku, dan kemudian disesuaikan dengan lidah Indonesia: Sumatera [sunting] Sejarah Bagian ini membutuhkan pengembangan. [sunting] Penduduk Secara umum, pulau Sumatera didiami oleh bangsa Melayu, yang terbagi ke dalam beberapa suku. Suku-suku besar ialah Aceh, Batak, Melayu, Minangkabau, Ogan, Komering, dan Lampung. Di wilayah pesisir timur Sumatera dan di beberapa kota-kota besar seperti Medan, Palembang, dan Pekanbaru, banyak bermukim etnis Tionghoa. Penduduk pulau Sumatera hanya terkonsentrasi di wilayah Sumatera Timur dan dataran tinggi Minangkabau. Mata pencaharian penduduk Sumatera sebagian besar sebagai petani, nelayan, dan pedagang. Penduduk Sumatera mayoritas beragama Islam dan sebagian kecil merupakan penganut Protestan, terutama di wilayah Tapanuli, Sumatera Utara. Di wilayah perkotaan, seperti Medan, Pekanbaru, dan Palembang, dijumpai beberapa orang penganut Buddha. [sunting] Transportasi Kota-kota di pulau Sumatera dihubungkan oleh tiga ruas jalan lintas, yakni lintas tengah, lintas timur, dan lintas barat, yang melintang dari utara - selatan Sumatera. Selain itu terdapat pula ruas jalan yang melintang dari barat - timur, seperti ruas Bengkulu - Palembang, Padang - Jambi, serta Padang - Dumai. Di beberapa bagian pulau Sumatera, kereta api merupakan sarana transportasi alternatif. Di bagian selatan, jalur kereta api bermula dari pelabuhan Panjang (Lampung) hingga Lubuk Linggau dan Palembang (Sumatera Selatan). Di tengah pulau Sumatera, jalur kereta api hanya terdapat di Sumatera Barat. Jalur ini menghubungkan antara kota Padang dengan Sawah Lunto dan kota Padang dengan kota Pariaman. Semasa kolonial Belanda hingga tahun 2001, jalur Padang - Sawah Lunto dipergunakan untuk pengangkutan batu bara. Tetapi semenjak cadangan batu bara di Ombilin mulai menipis, maka jalur ini tidak berfungsi lagi. Sejak akhir tahun 2006, pemerintah provinsi Sumatera Barat, kembali mengaktifkan jalur ini sebagai jalur kereta wisata. Di utara Sumatera, jalur kereta api membentang dari kota Medan sampai ke kota Tebing Tinggi. Pada jalur ini, kereta api dipergunakan sebagai sarana pengangkutan kelapa sawit dan penumpang. Penerbangan internasional dilayani dari Banda Aceh (Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda), Medan (Bandar Udara Internasional Polonia), Padang (Bandara Internasional Minangkabau, dan Palembang (Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II). Sedangkan pelabuhan kapal laut ada di Belawan (Medan), Teluk Bayur (Padang), dan Bakauheni (Lampung). [sunting] Ekonomi Pulau Sumatera merupakan pulau yang kaya dengan hasil bumi. Dari lima provinsi kaya di Indonesia, tiga provinsi terdapat di pulau Sumatera, yaitu provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Riau dan Sumatera Selatan. Hasil-hasil utama pulau Sumatera ialah kelapa sawit, tembakau, minyak bumi, timah, bauksit, batu bara dan gas alam. Hasil-hasil bumi tersebut sebagian besar diolah oleh perusahaan-perusahaan asing, seperti misalnya PT Caltex yang mengolah minyak bumi di provinsi Riau. Tempat-tempat penghasil barang tambang ialah : • Arun (NAD), menghasilkan gas alam. • Pangkalan Brandan (Sumatera Utara), menghasilkan minyak bumi • Duri, Dumai, dan Bengkalis (Riau), menghasilkan minyak bumi • Tanjung Enim (Sumatera Selatan), menghasilkan batu bara • Plaju dan Sungai Gerong (Sumatera Selatan), menghasilkan minyak bumi • Tanjung Pinang (Kepulauan Riau), menghasilkan bauksit • Indarung (Sumatera Barat), menghasilkan semen • Sawahlunto (Sumatera Barat), menghasilkan batubara Beberapa kota di pulau Sumatera, juga merupakan kota perniagaan yang cukup penting. Medan kota terbesar di pulau Sumatera, merupakan kota perniagaan utama di pulau ini. Banyak perusahaan-perusahaan besar nasional yang berkantor pusat di sini. [sunting] Geografis Pulau Sumatera terletak di bagian barat gugusan kepulauan Nusantara. Di sebelah utara berbatasan dengan Teluk Benggala, di timur dengan Selat Malaka, di sebelah selatan dengan Selat Sunda, dan di sebelah barat dengan Samudra Hindia. Di sebelah timur pulau, banyak dijumpai rawa yang dialiri oleh sungai-sungai besar yang bermuara di sana, antara lain Asahan (Sumatera Utara), Sungai Siak (Riau), Kampar, Inderagiri (Sumatera Barat, Riau), Batang Hari (Sumatera Barat, Jambi), Musi, Ogan, Lematang, Komering (Sumatera Selatan), dan Way Sekampung (Lampung). Sementara beberapa sungai yang bermuara ke pesisir barat pulau Sumatera diantaranya Batang Tarusan (Sumatera Barat), dan Ketahun (Bengkulu). Di bagian barat pulau, terbentang pegunungan Bukit Barisan yang membujur dari utara hingga selatan. Sepanjang bukit barisan terdapat gunung-gunung berapi yang masih aktif, seperti Geureudong (Aceh), Sinabung (Sumatera Utara), Marapi, Talang (Sumatera Barat), Gunung Kaba (Bengkulu), dan Kerinci (Sumatera Barat, Jambi). Di pulau Sumatera juga terdapat beberapa danau, di antaranya Danau Laut Tawar (Aceh), Danau Toba (Sumatera Utara), Danau Singkarak, Danau Maninjau, Danau Diatas, Danau Dibawah, Danau Talang (Sumatera Barat), Danau Kerinci (Jambi) dan Danau Ranau (Lampung dan Sumatera Selatan). [sunting] Daftar gunung di Sumatera • Gunung Dempo (3159 m) • Gunung Kerinci (3.805 m) • Gunung Leuser (3172 m) • Gunung Marapi (2,891.3 m) • Gunung Perkison (2300 m) • Gunung Pesagi (2.262 m) • Gunung Rajabasa (1281 m) • Gunung Sekincau (1718 m) • Gunung Seulawah Agam (1.726 m) • Gunung Sibayak (2.212 m) • Gunung Singgalang (2.877 m) • Gunung Talamau (2,912 m) • Gunung Tandikat (2438 m) • Gunung Tanggamus (1162 m) [sunting] Sumber daya alam Bagian ini membutuhkan pengembangan. [sunting] Administrasi Bagian ini membutuhkan pengembangan. [sunting] Provinsi di Sumatera Pemerintahan di Sumatera dibagi menjadi sepuluh provinsi berdasarkan urutan pembentukannya: • Sumatera Utara • Sumatera Selatan • Sumatera Barat • Riau • Jambi • Aceh • Lampung • Bengkulu • Kepulauan Bangka Belitung • Kepulauan Riau [sunting] Kota besar Berikut 10 kota besar di Sumatera berdasarkan jumlah populasi tahun 2009.[3] Urutan Kota, Provinsi Populasi 1 Medan, Sumatera Utara 3,418,645 2 Palembang, Sumatera Selatan 1,271,855 3 Padang, Sumatera Barat 960,184 4 Bandar Lampung, Lampung 916,561 5 Pekanbaru, Riau 763,275 6 Jambi, Jambi 454,686 7 Bengkulu, Bengkulu 373,243 8 Banda Aceh, Aceh 287,769 9 Pematang Siantar, Sumatera Utara 209,568 10 Lubuklinggau, Sumatera Selatan 189,371 Kalimantan Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Artikel ini membutuhkan lebih banyak catatan kaki untuk pemastian. Silakan bantu memperbaiki artikel ini dengan menambahkan catatan kaki. Untuk kegunaan lain dari Kalimantan, lihat Kalimantan (disambiguasi). "Borneo" beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lain dari Borneo, lihat Borneo (disambiguasi). Kalimantan Topografi Kalimantan Geografi Lokasi Asia Tenggara Koordinat 1°00′ LU 114°00′ BT Kepulauan Kepulauan Sunda Besar Luas 743,330 km² Ketinggian tertinggi 4,095 m Puncak tertinggi Kinabalu Negara Brunei Distrik Belait Brunei dan Muara Temburong Tutong Indonesia Provinsi Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Malaysia Negara bagian Sabah Sarawak Demografi Populasi 16 juta (per 2000) Kepadatan 22 Kalimantan (toponim: Kalamantan[1]/Calémantan[2][3]/Kalémantan[4]Kelamantan/Kilamantan/Klamantan/Klémantan/K'lemantan/Quallamontan[5]) adalah pulau terbesar ketiga di dunia yang terletak di sebelah utara Pulau Jawa dan di sebelah barat Pulau Sulawesi. Pulau Kalimantan dibagi menjadi wilayah Brunei, Indonesia (dua per tiga) dan Malaysia (sepertiga). Pulau Kalimantan terkenal dengan julukan "Pulau Seribu Sungai" karena banyaknya sungai yang mengalir di pulau ini. Pada zaman dahulu, Borneo -- yang berasal dari nama kesultanan Brunei -- adalah nama yang dipakai oleh kolonial Inggris dan Belanda untuk menyebut pulau ini secara keseluruhan, sedangkan Kalimantan adalah nama yang digunakan oleh penduduk kawasan timur pulau ini yang sekarang termasuk wilayah Indonesia.[6][7] Wilayah utara pulau ini (Sabah, Brunei, Sarawak) dahulu dalam bahasa Indonesia disebut dengan Kalimantan Utara, tetapi dalam pengertian sekarang Kalimantan Utara adalah Kalimantan Timur bagian utara. Dalam arti luas "Kalimantan" meliputi seluruh pulau yang juga disebut dengan Borneo, sedangkan dalam arti sempit Kalimantan hanya mengacu pada wilayah Indonesia. Daftar isi [sembunyikan] • 1 Etimologi • 2 Sejarah • 3 Geografi • 4 Sumber daya alam • 5 Administrasi o 5.1 Indonesia o 5.2 Malaysia o 5.3 Brunei Darussalam • 6 Bahasa • 7 Budaya o 7.1 Kelompok etnis • 8 Referensi • 9 Pranala luar [sunting] Etimologi Untuk etimologi nama Borneo, lihat Borneo (disambiguasi). Kalimantan berasal dari nama kelamantan sejenis buah sagu yang dikonsumsi penduduk di utara pulau ini.[8] Menurut dari C.Hose dan Mac Dougall, nama "Kalimantan" berasal dari 6 golongan suku-suku setempat yakni Dayak Laut (Iban), Kayan, Kenya, Klemantan, Munut, dan Punan. Dalam karangannya, Natural Man, a Record from Borneo (1926), C Hose menjelaskan bahwa Klemantan adalah nama baru yang digunakan oleh bangsa Melayu. Namun menurut Slamet Muljana, kata Kalimantan bukan kata Melayu asli tapi kata pinzaman sebagai halnya kata Malaya, melayu yang berasal dari India (malaya yang berarti gunung). Kalimantan atau Klemantan berasal dari Sanksekerta, Kalamanthana yaitu pulau yang udaranya sangat panas atau membakar (kal[a]: musim, waktu dan manthan[a]: membakar). Karena vokal a pada kala dan manthana menurut kebiasaan tidak diucapkan, maka Kalamanthana diucap Kalmantan yang kemudian disebut penduduk asli Klemantan atau Quallamontan yang akhirnya diturunkan menjadi Kalimantan.[9] Terdapat tiga kerajaan besar (induk) di pulau ini yaitu Borneo (Brunei/Barune), Succadana (Tanjungpura/Bakulapura), dan Banjarmasinn (Nusa Kencana). Penduduk kawasan timur pulau ini menyebutnya Pulu K'lemantan[10][11][12], orang Italia mengenalnya Calemantan dan orang Ukraina : Калімантан. Jika ditilik dari bahasa Jawa, nama Kalimantan dapat berarti "Sungai Intan".[13][14][15] Sebuah sungai di Kalsel dan transportasi airnya Sepanjang sejarahnya, Kalimantan juga dikenal dengan nama-nama yang lain. Kerajaan Singasari, misalnya, menyebutnya "Bakulapura" yaitu jajahannya yang berada di barat daya Kalimantan. Bakula dalam bahasa Sanskerta artinya pohon tanjung (mismusops alengi) sehingga Bakulapura mendapat nama Melayu menjadi "Tanjungpura" artinya negeri/pulau pohon tanjung yaitu nama kerajaan Tanjungpura yang sering dipakai sebagai nama pulaunya. Sementara Kerajaan Majapahit di dalam Kakawin Nagara Kretagama yang ditulis tahun 1365 menyebutnya "Tanjungnagara" yang juga mencakup pula Filipina seperti Saludung (Manila) dan Kepulauan Sulu. Hikayat Banjar sebuah kronik kuno dari Kalimantan Selatan yang bab terakhirnya ditulis pada tahun 1663, tetapi naskah Hikayat Banjar ini sendiri berasal dari naskah dengan teks bahasa Melayu yang lebih kuno pada masa kerajaan Hindu, di dalamnya menyebut Pulau Kalimantan dengan nama Melayu yaitu pulau "Hujung Tanah". Sebutan Hujung Tanah ini muncul berdasarkan bentuk geomorfologi wilayah Kalimantan Selatan pada zaman dahulu kala yang berbentuk sebuah semenanjung yang terbentuk dari deretan Pegunungan Meratus yang menjorok ke laut Jawa. Keadaan ini identik dengan bentuk bagian ujung dari Semenanjung Malaka yaitu Negeri Johor yang sering disebut "Ujung Tanah" dalam naskah-naskah Kuno Melayu. Semenanjung Hujung Tanah inilah yang bersetentangan dengan wilayah Majapahit di Jawa Timur sehingga kemudian mendapat nama Tanjungnagara artinya pulau yang berbentuk tanjung/semenanjung. Sebutan "Nusa Kencana" adalah sebutan pulau Kalimantan dalam naskah-naskah Jawa Kuno seperti tentang Ramalan Prabu Jayabaya pada masa akhir Majapahit mengenai akan dikuasai Tanah Jawa oleh bangsa Jepang yang datang dari arah Nusa Kencana sebutan untuk wilayah yang sekarang menjadi provinsi Kalimantan Selatan, karena terbukti sebelum menyeberang ke Jawa, tentara Jepang terlebih dahulu menguasai ibukota Kalimantan saat itu yaitu Banjarmasin. Nusa Kencana sering pula digambarkan sebagai Tanah Sabrang yaitu sebagai perwujudan Negeri Alengka yang primitif tempat tinggal para raksasa di seberang Tanah Jawa. Di Tanah Sabrang inilah terdapat Tanah Dayak yang disebutkan dalam Serat Maha Parwa. Sebutan-sebutan yang lain antara lain: "Pulau Banjar"[16][17], Raden Paku seorang anggota Walisanga diriwayatkan pernah menyebarkan Islam ke Pulau Banjar, demikian pula sebutan oleh orang Gowa, Selaparang (Lombok), Sumbawa dan Bima karena kerajaan-kerajaan ini memiliki hubungan bilateral dengan Kesultanan Banjar; "Jawa Besar" sebutan dari Marcopolo penjelajah dari Italia[18] atau dalam bahasa Arab[19]; dan "Jaba Daje" artinya "Jawa di Utara (dari pulau Madura) sebutan suku Madura terhadap pulau Kalimantan baru pada abad ke-20. [sunting] Sejarah Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah Kalimantan Pulau Kalimantan berada di tengah-tengah Asia Tenggara karena itu pulau ini banyak mendapat pengaruh budaya dan politik dari pulau-pulau sekitarnya. Sekitar tahun 400 pulau Kalimantan telah memasuki zaman sejarah dengan ditemukan prasasti Yupa peninggalan Kerajaan Kutai tetapi perkembangan kemajuan peradaban relatif lebih lambat dibandingkan pulau lain karena kendala geografis dan penduduk yang sedikit. Pada abad ke-14 Odorico da Pordenone, seorang rahib Katolik telah mengunjungi Kalimantan. Sekitar tahun 1362 Majapahit dibawah pimpinan Patih Gajah Mada melakukan perluasan kekuasaannya ke pulau Kalimantan, yaitu negeri-negeri : Kapuas-Katingan, Sampit, Kota Ungga, Kota Waringin, Sambas, Lawai, Kadandangan, Landa, Samadang, Tirem, Sedu, Barune, Kalka, Saludung (Maynila), Solot, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalong, Tanjung Kutei dan Malano tetap yang terpenting di pulau Tanjungpura.[20] Pulau Kalimantan dahulu terbagi menjadi 3 wilayah kerajaan besar: Brunei, Sukadana/Tanjungpura dan Banjarmasin. Tanjung Dato adalah batas wilayah Brunei dengan Sukadana/Tanjungpura, sedangkan Tanjung Sambar batas wilayah Sukadana/Tanjungpura dengan wilayah Banjarmasin.[21] Di zaman Hindia-Belanda, Kalimantan dikenal sebagai Borneo. Ini tidak berarti nama Kalimantan tidak dikenal. Dalam surat-surat Pangeran Tamjidillah dari Kerajaan Banjar pada tahun 1857 kepada pihak Residen Belanda di Banjarmasin ia menyebutkan pulau Kalimantan, tidak pulau Borneo. Ini menunjukkan bahwa di kalangan penduduk, nama Kalimantan lebih dikenal dari pada nama Borneo yang dipakai dalam administrasi pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Nama Kalimantan kembali mulai populer pada sekitar tahun 1940-an. Pada tahun 1938, Hindia Belanda mendirikan tiga provinsi atas eilandgewest yaitu Sumatera beribukota di Medan, Borneo beribukota di Banjarmasin, dan Timur Besar beribukota di Makassar.[22] Pada tanggal 13 Februari 1942 Sakaguchi Detachment menduduki kota Banjarmasin.[23] Setelah mengambil alih Kalimantan dari tangan Jepang, NICA mendesak kaum Federal Kalimantan untuk segera mendirikan Negara Kalimantan menyusul Negara Indonesia Timur yang telah berdiri. Maka dibentuklah Dewan Kalimantan Barat tanggal 28 Oktober 1946, yang menjadi Daerah Istimewa Kalimantan Barat pada tanggal 27 Mei 1947; dengan Kepala Daerah, Sultan Hamid II dari Kesultanan Pontianak dengan pangkat Mayor Jenderal. Wilayahnya terdiri atas 13 kerajaan sebagai swapraja seperti pada zaman Hindia Belanda yaitu Sambas, Pontianak, Mempawah, Landak, Kubu, Tayan, Meliau, Sekadau, Sintang, Selimbau, Simpang, Sukadana dan Matan. Pangeran Muhammad Noor Dewan Dayak Besar dibentuk tanggal 7 Desember 1946, dan selanjutnya tanggal 8 Januari 1947 dibentuk Dewan Pagatan, Dewan Pulau Laut dan Dewan Cantung Sampanahan yang bergabung menjadi Federasi Kalimantan Tenggara. Kemudian tanggal 18 Februari 1947 dibentuk Dewan Pasir dan Federasi Kalimantan Timur, yang akhirnya pada tanggal 26 Agustus 1947 bergabung menjadi Dewan Kalimantan Timur. Selanjutnya Daerah Kalimantan Timur menjadi Daerah Istimewa Kalimantan Timur dengan Kepala Daerah, Sultan Aji Muhammad Parikesit dari Kesultanan Kutai dengan pangkat Kolonel. Daerah Banjar yang sudah terjepit daerah federal akhirnya dibentuk Dewan Banjar tanggal 14 Januari 1948. Gubernur Kalimantan dalam pemerintahan Pemerintah RI di Yogyakarta, yaitu Pangeran Muhammad Noor, mengirim Cilik Riwut dan Hasan Basry dalam misi perjuangan mempertahankan kemerdekaan untuk menghadapi kekuatan NICA. Pada tanggal 17 Mei 1949, Letkol Hasan Basry selaku Gubernur Tentara ALRI Wilayah IV Pertahanan Kalimantan memproklamirkan sebuah Proklamasi Kalimantan yang isinya bahwa "Kalimantan" tetap sebagai bagian tak terpisahkan dari Negara Republik Indonesia yang telah diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945. Pemerintah Gubernur Militer ini merupakan upaya tandingan terhadap terbentuknya Dewan Banjar yang didirikan Belanda. Di masa Republik Indonesia Serikat, Kalimantan menjadi beberapa satuan-kenegaraan yaitu: Daerah Istimewa Kalimantan Barat dengan ibukota Pontianak, Federasi Kalimantan Timur dengan ibukota Samarinda, Dayak Besar dengan ibukota sementara Banjarmasin, Daerah Banjar dengan ibukota Banjarmasin, Federasi Kalimantan Tenggara dengan ibukota Kotabaru. Sejak tahun 1938, Borneo-Hindia Belanda (Kalimantan) merupakan satu kesatuan daerah administratif di bawah seorang gubernur, yang berkedudukan di Banjarmasin, dan memiliki wakil di Volksrad. Pembentukan kembali provinsi Kalimantan tanggal 14 Agustus 1950 sesudah bubarnya RIS, diperingati sebagai Hari Jadi Provinsi Kalimantan Selatan (dahulu bernama provinsi Kalimantan, salah satu provinsi pertama). Hingga tahun 1956 Kalimantan dibagi menjadi 3 provinsi, yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat. Selanjutnya pada tanggal 23 Mei 1957, secara resmi terbentuklah propinsi Kalimantan Tengah yang sebelumnya bernama Daerah Dayak Besar sebagai bentuk pemisahan diri dari Kalimantan Selatan, berdiri menjadi provinsi ke-17 yang independen. Kemudian dalam Konfrontasi Indonesia-Malaysia, Kalimantan merupakan lokasi utama dalam peristiwa Konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia pada tahun 1962 dan 1966. [sunting] Geografi Artikel utama untuk bagian ini adalah: Geografi Kalimantan Gunung Kinabalu adalah gunung tertinggi di Kalimantan Pulau Kalimantan terletak di sebelah utara pulau Jawa, sebelah timur Selat Melaka, sebelah barat pulau Sulawesi dan sebelah selatan Filipina. Luas pulau Kalimantan adalah 743.330 km². Pulau Kalimantan dikelilingi oleh Laut Cina Selatan di bagian barat dan utara-barat, Laut Sulu di utara-timur, Laut Sulawesi dan Selat Makassar di timur serta Laut Jawa dan Selat Karimata di bagian selatan. Gunung Kinabalu (4095 m) yang terletak di Sabah, Malaysia ialah lokasi tertinggi di Kalimantan. Selain itu terdapat pula Gunung Palung, Gunung Lumut, dan Gunung Liangpran. Sungai-sungai terpanjang di Kalimantan adalah Sungai Kapuas (1143 km) di Kalimantan Barat, Indonesia, Sungai Barito (880 km) di Kalimantan Tengah, Indonesia, Sungai Mahakam (980 km) di Kalimantan Timur, Indonesia, Sungai Rajang (562,5 km) di Serawak, Malaysia. [sunting] Sumber daya alam Data pengundulan hutan Kalimantan dari 1900 dan prediksi tahun 2020.[24] Kalimantan memiliki hutan yang lebat. Namun, wilayah hutan itu semakin berkurang akibat maraknya aksi penebangan pohon. Hutan Kalimantan ialah habitat alami bagi hewan orang utan, gajah borneo, badak borneo, landak, rusa, tapir dan beberapa spesies yang terancam punah.[3] [sunting] Administrasi Peta pembagian politik Kalimantan. Di Pulau Kalimantan terdapat sebagian wilayah Indonesia dan Malaysia. Wilayah Brunei seluruhnya berada di pulau ini. [sunting] Indonesia Kalimantan wilayah Indonesia dibagi menjadi empat provinsi berdasarkan urutan pembentukannya: • Kalimantan Selatan dengan ibu kota Banjarmasin • Kalimantan Barat dengan ibu kota Pontianak • Kalimantan Timur dengan ibu kota Samarinda • Kalimantan Tengah dengan ibu kota Palangkaraya Berikut 9 kota besar di Kalimantan Indonesia berdasarkan jumlah populasi tahun 2010 dan perbandingan dengan tahun 2005.[25] Urutan Kota, Propinsi Populasi 2005[25] Populasi 2010[26] 1 Samarinda, Kalimantan Timur 574,439 726,223 2 Banjarmasin, Kalimantan Selatan 589,115 625,395 3 Balikpapan, Kalimantan Timur 469,884 559,126 4 Pontianak, Kalimantan Barat 501,483 550,304 5 Palangkaraya, Kalimantan Tengah 170,761 220,223 6 Banjarbaru, Kalimantan Selatan 152,839 199,359 7 Tarakan, Kalimantan Timur 155,716 193,069 8 Singkawang, Kalimantan Barat 167,892 186,306 9 Bontang, Kalimantan Timur 120,348 140,787 Sulawesi Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Sulawesi Divisi Provinsial Geografi Lokasi Asia Tenggara Koordinat 2°08′ LS 120°17′ BT Kepulauan Kepulauan Sunda Besar Luas 174,600 km² Ketinggian tertinggi 3,478 m Puncak tertinggi Rantemario Negara Indonesia Provinsi (ibukota) Sulawesi Barat (Mamuju) Sulawesi Utara (Manado) Sulawesi Tengah (Palu (kota)) Sulawesi Selatan (Makassar) Sulawesi Tenggara (Kendari) Gorontalo (Gorontalo) Demografi Populasi 16 juta (per 2005) Kepadatan 92/km² Sulawesi atau Celebes adalah pulau dalam wilayah Indonesia yang terletak di antara Pulau Kalimantan dan Kepulauan Maluku. Dengan luas wilayah sebesar 174.600 km², Sulawesi merupakan pulau terbesar ke-11 sedunia. Daftar isi [sembunyikan] • 1 Etimologi • 2 Sejarah o 2.1 Geografi • 3 Sumber daya alam o 3.1 Kota besar o 3.2 Daftar gunung di Sulawesi o 3.3 Empat semenanjung utama • 4 Bahasa • 5 Budaya • 6 Referensi [sunting] Etimologi Bagian ini membutuhkan pengembangan. [sunting] Sejarah Bagian ini membutuhkan pengembangan. [sunting] Geografi Sulawesi merupakan pulau terbesar keempat di Indonesia setelah Papua, Kalimantan dan Sumatera dengan luas daratan 174.600 kilometer persegi. Bentuknya yang unik menyerupai bunga mawar laba-laba atau huruf K besar yang membujur dari utara ke selatan dan tiga semenanjung yang membujur ke timur laut, timur dan tenggara. Pulau ini dibatasi oleh Selat Makasar di bagian barat dan terpisah dari Kalimantan serta dipisahkan juga dari Kepulauan Maluku oleh Laut Maluku. Sulawesi berbatasan dengan Borneo di sebelah barat, Filipina di utara, Flores di selatan, Timor di tenggara dan Maluku di sebelah timur. [sunting] Sumber daya alam Bagian ini membutuhkan pengembangan. Keseluruhan artikel atau bagian tertentu dari artikel ini perlu di-wikifikasi. == Administrasi == Peta Sulawesi Pemerintahan di Sulawesi dibagi menjadi enam provinsi berdasarkan urutan pembentukannya yaitu provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Sulawesi Barat. Sulawesi Tengah merupakan provinsi terbesar dengan luas wilayah daratan 68,033 kilometer persegi dan luas laut mencapai 189,480 kilometer persegi yang mencakup semenanjung bagian timur dan sebagian semenanjung bagian utara serta Kepulauan Togean di Teluk Tomini dan pulau-pulau di Banggai Kepulauan di Teluk Tolo. Sebagian besar daratan di provinsi ini bergunung-gunung (42.80% berada di atas ketinggian 500 meter dari permukaan laut) dan Katopasa adalah gunung tertinggi dengan ketinggian 2.835 meter dari permukaan laut. [sunting] Kota besar Berikut 10 kota besar di Sulawesi berdasarkan jumlah populasi tahun 2010.[1] Urutan Kota, Provinsi Populasi 1 Makassar, Sulawesi Selatan 1,339,374 2 Manado, Sulawesi Utara 408,354 3 Palu, Sulawesi Tengah 335,297 4 Kendari, Sulawesi Tenggara 489,153 5 Bitung, Sulawesi Utara 187,932 6 Gorontalo, Gorontalo 179,991 7 Palopo, Sulawesi Selatan 148,033 8 Baubau, Sulawesi Tenggara 137,118 9 Parepare, Sulawesi Selatan 129,542 10 Kotamobagu, Sulawesi Utara 107,216 [sunting] Daftar gunung di Sulawesi • Gunung Lokon (1.689 m) • Gunung Klabat • Gunung Soputan • Gunung Mekongga (2.620 m) • Gunung Mahawu • Gunung Bawakaraeng (2.705 m) • Gunung Latimojong (3.680 m) [sunting] Empat semenanjung utama • Semenanjung Timur • Semenanjung Selatan • Semenanjung Tenggara • Semenanjung Minahasa Papua Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas (Dialihkan dari Irian Jaya) Papua — Provinsi — Lambang Motto: Karya Swadaya Peta lokasi Papua Negara Indonesia Hari jadi 1 Mei 1963 (direbut dari Belanda) Ibu kota Jayapura Koordinat 9º 20' - 0º 10' LS 134º 10' - 141º 10' BT Pemerintahan - Gubernur Barnabas Suebu - DAU Rp. 1.276.285.908.000,- (2011)[1] Luas - Total 309.934,4 km2 (setelah pembentukan Papua Barat) Populasi (2010)[2] - Total 2.851.999 - Kepadatan 9,2/km² Demografi - Suku bangsa Papua (52%), Non Papua/Pendatang (48%) (2002) • Papua: Suku Aitinyo, Suku Aefak, Suku Asmat, Suku Agast, Suku Dani, Suku Ayamaru, Suku Mandacan, Suku Biak, Suku Serui, Suku Mee, Suku Amungme, Suku Kamoro • Non-Papua/Pendatang: Jawa, Makassar, Bugis, Batak, Minahasa, Huli, Tionghoa, - Agama Protestan (51,2%), Katolik (25,42%), Islam (20%), Hindu (3%), Budha (0,13%) - Bahasa Bahasa Indonesia dan 268 Bahasa Daerah Zona waktu WIT Kabupaten 27 Kota 2 Kecamatan 214 Lagu daerah Apuse, Yamko Rambe Yamko Situs web www.papua.go.id Artikel ini adalah tentang Provinsi Papua. Untuk penggunaan lain dari kata ini, lihat Papua (disambiguasi). Papua adalah sebuah provinsi terluas Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Papua atau bagian paling timur West New Guinea (Irian Jaya). Belahan timurnya merupakan negara Papua Nugini atau East New Guinea. Burung endemik Tanah Papua Provinsi Papua dulu mencakup seluruh wilayah Papua bagian barat, sehingga sering disebut sebagai Papua Barat terutama oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM), gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari Indonesia dan membentuk negara sendiri. Pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, wilayah ini dikenal sebagai Nugini Belanda (Nederlands Nieuw-Guinea atau Dutch New Guinea). Setelah berada bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia Indonesia, wilayah ini dikenal sebagai Provinsi Irian Barat sejak tahun 1969 hingga 1973. Namanya kemudian diganti menjadi Irian Jaya oleh Soeharto pada saat meresmikan tambang tembaga dan emas Freeport, nama yang tetap digunakan secara resmi hingga tahun 2002. Nama provinsi ini diganti menjadi Papua sesuai UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua. Pada tahun 2003, disertai oleh berbagai protes (penggabungan Papua Tengah dan Papua Timur), Papua dibagi menjadi dua provinsi oleh pemerintah Indonesia; bagian timur tetap memakai nama Papua sedangkan bagian baratnya menjadi Provinsi Irian Jaya Barat (setahun kemudian menjadi Papua Barat). Bagian timur inilah yang menjadi wilayah Provinsi Papua pada saat ini. Daftar isi [sembunyikan] • 1 Pemerintahan o 1.1 Kabupaten dan Kota o 1.2 Daftar gubernur • 2 Geografi o 2.1 Batas wilayah • 3 Kelompok suku asli di Papua • 4 Senjata tradisional • 5 Referensi dan pranala luar [sunting] Pemerintahan Artikel utama untuk bagian ini adalah: Otonomi Khusus Papua Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) memiliki 52 orang anggota. [sunting] Kabupaten dan Kota No. Kabupaten/Kota Ibu kota 1 Kabupaten Asmat Agats 2 Kabupaten Biak Numfor Biak 3 Kabupaten Boven Digoel Tanah Merah 4 Kabupaten Deiyai Tigi 5 Kabupaten Dogiyai Kigamani 6 Kabupaten Intan Jaya Sugapa 7 Kabupaten Jayapura Sentani 8 Kabupaten Jayawijaya Wamena 9 Kabupaten Keerom Waris 10 Kabupaten Kepulauan Yapen Serui 11 Kabupaten Lanny Jaya Tiom 12 Kabupaten Mamberamo Raya Burmeso 13 Kabupaten Mamberamo Tengah Kobakma 14 Kabupaten Mappi Kepi 15 Kabupaten Merauke Merauke 16 Kabupaten Mimika Timika 17 Kabupaten Nabire Nabire 18 Kabupaten Nduga Kenyam 19 Kabupaten Paniai Enarotali 20 Kabupaten Pegunungan Bintang Oksibil 21 Kabupaten Puncak Ilaga 22 Kabupaten Puncak Jaya Kotamulia 23 Kabupaten Sarmi Sarmi 24 Kabupaten Supiori Sorendiweri 25 Kabupaten Tolikara Karubaga 26 Kabupaten Waropen Botawa 27 Kabupaten Yahukimo Sumohai 28 Kabupaten Yalimo Elelim 29 Kota Jayapura - UU RI Tahun 2008 Nomor 6 adalah dasar hukum pembentukan Kabupaten Nduga di Provinsi Papua, saat ini tidak terdapat jurisdiksi Kabupaten Nduga Tengah.[3] [sunting] Daftar gubernur No. Foto Nama Dari Sampai Keterangan 1. Zainal Abidin Syah 1956 1961 Sultan dari Kesultanan Tidore. 2. P. Pamuji 1961 1962 3. Elias Jan Bonai 1962 1964 4. Frans Kaisiepo 1964 1973 5. Acub Zaenal 1973 1975 6. Sutran 1975 1981 7. Busiri Suryowinoto 1981 1982 8. Izaac Hindom 1982 1988 9. Barnabas Suebu 1988 1993 Periode pertama. 10. Jacob Pattipi 1993 1998 11. Freddy Numberi 1998 2001 12. Jacobus Perviddya Solossa 2001 2005 13. Sodjuangan Situmorang 2005 2006 14. Barnabas Suebu 2006 2011 Periode kedua. [sunting] Geografi Puncak Jaya, titik tertinggi di Indonesia Luas wilayah Luas 420.540 km² Iklim Curah hujan 1.800 – 3.000 mm Suhu udara 19-28°C Kelembapan 80% [sunting] Batas wilayah Utara Samudera Pasifik Selatan Samudera Hindia, Laut Arafuru, Teluk Carpentaria, Australia Barat Papua Barat, Kepulauan Maluku Timur Papua Nugini [sunting] Kelompok suku asli di Papua Pribumi Papua dari Lembah Baliem Peta menunjukkan kota-kota penting di Irjabar dan Papua Kelompok suku asli di Papua terdiri dari 255 suku, dengan bahasa yang masing-masing berbeda. Suku-suku tersebut antara lain: • Ansus • Amungme • Asmat • Ayamaru, mendiami daerah Sorong • Bauzi • Biak • Dani • Empur, mendiami daerah Kebar dan Amberbaken • Hatam, mendiami daerah Ransiki dan Oransbari • Iha • Kamoro • Mandobo/Wambon • Mee, mendiami daerah pegunungan Paniai • Meyakh, mendiami Kota Manokwari • Moskona, mendiami daerah Merdei • Nafri • Sentani, mendiami sekitar danau Sentani • Souk, mendiami daerah Anggi dan Menyambouw • Waropen • Wamesa • Muyu • Tobati • Enggros • Korowai • Fuyu [sunting] Senjata tradisional Pisau belati Papua Salah satu senjata tradisional di Papua adalah Pisau Belati. Senjata ini terbuat dari tulang kaki burung kasuari dan bulunya menghiasi hulu Belati tersebut. senjata utama penduduk asli Papua lainnya adalah Busur dan Panah. Busur tersebut dari bambu atau kayu, sedangkan tali Busur terbuat dari rotan. Anak panahnya terbuat dari bambu, kayu atau tulang kangguru. Busur dan panah dipakai untuk berburu atau berperang Negeriku Ku berdiri tegak disini Di negeri perjuanganku Tumpah darah kakekku Ini rumahku, Tempatku bernyanyi, menangis, tertawa Bermimpi… Ku bangga lahir disini Di negeriku yang indah Di tempatku tumbuh Ku ingin berjuang, Berjuang untuk hiasi negeriku yang mulai rusak bosan ku menangis disini Aku ingin tertawa Tertawa untuk masa indah Masa kejayaan negeriku yang besar aku akan bertempur untuk itu aku cinta negeriku, budayaku, bahasaku…. Aku cinta Indonesiaku SUMBER : http://supartobrata.com

About the Author

Terimakasih telah menyempatkan waktu untuk berkunjung di BLOG saya yang sederhana ini. Semoga memberikan manfaat meski tidak sebesar yang Anda harapakan. untuk itu, berikanlah kritik, saran dan masukan dengan memberikan komentar. Jika Anda ingin berdiskusi atau memiliki pertanyaan seputar artikel ini, silahkan hubungan saya lebih lanjut via e-mail di averifikasi@gmail.com.

on Friday, July 01, 2011. Filed under , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

0 komentar for "Negeriku"

Leave a reply

Jangan Lupa Komentar ya

Enter your email address:

BERLANGGAN GRATIS

Click Here!

    Blog Archive